JC ID

Pass

Forget?

Register?

Thread

Video

Photo Box

Article

Pray For

Film Soegija, Membawa Pesan Nasionalisme Bukan Dakwah

(By : Kapanlagi.com | SuaraPembaruan.com | TribunNews.com | Puji Astuti).    View : 3258times

Rating :

Film Soegija, Membawa Pesan Nasionalisme Bukan Dakwah

Film berjudul “Soegija” garapan sutradara kawakan Garin Nugroho ini mengangkat tokoh pahlawan nasional Mgr.Soegijapranata,  SJ, uskup Katolik pribumi pertama di Indonesia yang pikiran dan tindakannya mengedepankan perdamaian, pruralis dan juga cinta Indonesia.

Film ini dipastikan bukanlah biografi Soegija, karena menurut Garin, ia mengemas film ini untuk menghibur dan juga sederhana walau pun tidak dangkal sehingga tetap mudah dicerna oleh masyarakat.

“Saya bikin hiburan yang dikerjakan sungguh-sungguh. Kemasan Hollywood, namun dengan gaya Melayu. Main musiknya orkestra besar, nyanyinya tetap saja 'benci tapi rindu'," demikian pernyataan Garis yang dirilis oleh Kapanlagi.com.

Film Soegija ini telah digagas selama lima tahun, setelah riset panjang akhirnya film ini dikerjakan dengan sangat serius. Dengan di dukung oleh 2.775 pemain dari dalam dan luar negeri, film yang akan dirilis pada awal Juni nanti telah menelan dana sebesar 12 miliar rupiah. Film yang menggunakan 6 bahasa tersebut mengambil setting tempat di Yogyakarta, Semarang dan beberapa tempat lainnya di Jawa Tengah.

Film ini dalam trailernya kisahnya diawali  bagaimana Soegija diangkat menjadi uskup Katolik pribumi pertama ditengah berkecamuknya perang dunia kedua. Perang menyebabkan banyak orang menderita, terutama orang-orang Indonesia karena banyak keluarga terpisah, anak-anak yang mencari orangtuanya dan sebaliknya.

Dengan setting waktu pada tahun 1942 saat Jepang masuk ke Indonesia, Mariyem  (Annisa Hertami) seorang gadis pribumi terpisah dari sang kakak Maryono (Mohammad Abe). Hal yang serupa dengan Ling Ling (Andrea Reva), seorang gadis keturunan China yang terpisah dari ibunya (Olga Lydia). Keterpisahan itu mempertemukan mereka dengan sang Romo Soegija yang sangat prihatin bukan hanya pada kondisi umatnya namun juga masyarakat Indonesia yang menderita.

"Film ini tidak hanya mengisahkan tentang kepahlawan Soegija tetapi yang penting justru bagaimana film ini mengajak kita memaknai kembali nasionalisme dalam konteks jaman ini. Soegija mengingatkan bahwa perjuangan tidak identik dengan kekerasan. Soegija memberi teladan melampaui diri dan agamanya. Keutamaan kehidupan berbangsa adalah belajar dan bekerja, membina kerjasama dan memupuk kebangsaan kita dengan terbuka," demikian jelas Romo Benny Susetyo Pr, Sekretaris Komisi Hubungan antar Agama KWI.

Jika beberapa kelompok dari agama tertentu menyatakan penolakan atas kehadiran film ini, produser film Soegija, Tri Giovanni dan Djaduk Ferianto menjamin bahwa film ini bukanlah film dakwah. ““Ini film soal kepahlawanan, nasionalisme. Ini ibarat perayaan multikultur,”  demikian terang Djaduk. 

Anda penasaran dengan film ini? Pastikan Anda mendapatkan tiketnya segera, karena film ini akan dirilis perdana pada 7 Juni 2012 di bioskop-bioskop kesayangan Anda. 

 

 

Baca juga artikel lainnya :

Bad Relationship, Mengapa Masih Dipertahankan?

Roh Kudus, Karunia Terbesar Dari Tuhan

Amankan Laga Inter, Polisi Terjunkan 2.534 Personel

Tips Tidur Sehat Bagi Wanita Hamil


Jawaban.com

COMMENTS

KONSELING

COUNSELLING


  • * hana paramita

    very nice.. filmnya keren banget, bangga punya dosen kaya Pak Tri Giovani. sukses buat film selanjutnya : ) ditunggu.

  • * kaka

    Filmnya scr umum bagus walau ada bbrp catatan utk mas Garin spt. Pemilihan judul film yg kurang pas (mgkn lbh pas kalau disebut Romo Soegijapanta), masih belum bisa menonjolkan sang tokoh dgn lebih gamblang spt jasa2 beliau dlm diplomasi politik shg Vatican menjadi negara pertama yg mengakui kemerdekaan RI dll (yg tdk pernah tertulis dlm buku2 pelajaran sejarah di sekolah2), bbrp lokasi setting yg kurang pas, pelafalan penyoiar radio pak Besut yg salah (dlm penyebutan nama), dmkn jg pemilihan bbrp aktor/ aktris nya yg kurang pas krn bertampang generasi muda masa kini yg nota bene segar, chubby, berpakaian bersih, dll (padahal zaman itu, lbh banyak kaum muda yg kurang gizi dan hrs pakai karung goni utk pakaian krn perang yg berkelanjutan). Anyway, Garin, bravo for you. Anda sungguh berani membuat film sebagus ini dgn tema perjuangan dan sejarah di tengah maraknya film horor dan sex picisan (pocong, kuntilanak dll). Teruslah berkarya mas Garin dan kami tunggu karya2 besarmu di dunia film. Ad Maiorem Dei Gloriam. GBU.

  • * sally

    filmnya bagus kok saia sudah nonton tadi rame banget.film ini tidak hnya untuk orang katolik/kristen saja tadi ada orang muslim juga kok yg nonton

  • * Collynesia

    Saya sudah menonton film ini, dan ketika saya menonton disana saya menemukan beberapa fragmen kisah yang jika disatukan akan menghasilkan suatu pesan moral yang luar biasa untuk bangsa kita, dari pesan itu malah telah menjadi bukti bahwa film ini bukanlah film agama.

  • * Denny

    luar biasa.....!!!! Perlu juga memproduksi film-film bertemakan kebangsaan yang dibubuhi sejarah yang ada, karena bangsa ini berdiri atas semua golongan...., bukan satu atau sebagian...


  • Add Your Comment

Nickname
Email
Rating    REGRET
  BETTER NOT WATCH
  NOT BAD
  VERY NICE
  MANDATORY TO WATCH
Comment