Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 15; Matius 15; Yunus 1-4
Nebukadnezar memiliki nama besar, barisan pasukan yang sangat besar, kerajaan yang besar, tapi juga ego yang besar. Di suatu masa dalam kehidupannya gara-gara ego-nya yang besar itu, Tuhan membuatnya belajar dengan merendahkannya agar tidak merasa benar sendiri. Merasa benar, mungkin adalah salah satu "penyakit" yang harus kita waspadai juga.
Seringkali kita sebagai pimpinan ataupun pekerja biasa merasa bahwa pekerjaan adalah suatu persaingan tanpa batas. Saat dimintai ide dalam rapat, jika ide kita ditolak dan ide dari rekan lain yang diterima, apakah kita suka merasa "kalah"? Rapat-rapat di perusahaan bukanlah ajang ketok palu untuk memaksakan kehendak.
Ketika kita "menang" dalam memaksakan kehendak dan keinginan pada orang lain, rekan-rekan yang lain bisa saja melakukan kehendak kita, tapi dengan terpaksa. Akhirnya, mereka tidak merasa terlibat, apalagi turut bertanggungjawab atas pelaksanaan ide ini. Jika hasil yang dicapai tidak sesuai dengan yang diharapkan atau bahkan gagal, dalam banyak hal kita sendiri yang akan menanggungnya. Rekan-rekan lain tersebut akan mudah melemparkan tanggung jawab ke pundak kita.
Kerelaan menimbulkan tanggung jawab. Ketika rekan-rekan yang lain rela mengikuti ide kita, coba cek ulang apakah mereka melakukannya dengan rela atau terpaksa. Sudahkah kita mempertimbangkan saran-saran mereka mengenai ide kita? Jangan sampai kita kelewat batas dan gagal tanpa dapat dipulihkan.
Merasa benar bukan berarti benar.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”