Mementingkan Keinginan Orang Lain Lebih Dulu, Itu yang Dinamakan Kasih

Renungan Harian / 10 September 2018

Kalangan Sendiri
Mementingkan Keinginan Orang Lain Lebih Dulu, Itu yang Dinamakan Kasih
Lori Official Writer
      4443

Filipi 2: 4

“…dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”


Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 72; Ibrani 6; Zefanya 1-3

Ketel teh tuaku akhirnya tamat riwayatnya. Aku berjalan ke dapur suatu pagi dan menemukan air sudah tumpah di atas kompor. Itu adalah bunyi siulannya yang terakhir. Tapi aku tahu satu hal, aku tak mau mengganti ketel tehku dengan tipe listrik.

Dengan semua jenis benda listrik, TV dan bahkan komputer yang ada di dapur, aku bertekad untuk menyimpan setidaknya satu hal, sebuah era yang lebih lambat, lebih kuat, dan tidak rumit yaitu ketel teh sederhana di atas kompor.

Hanya ada satu masalah, suamimu lebih memilih hal yang praktis.

Dalam sebuah kunjungan ke rumah saudara perempuannya, dia pulang ke rumah sambil mengoceh tentang ceret listrik.

“Mereka menghemat setengah waktu merebus dan tidak membuat seluruh ruang dapur panas!”

Karena kami tinggal di Florida, dia pikir hal ini bisa sangat baik.

Tapi aku tak bisa dibujuk. Aku lebih baik mati karena kepanasan daripada harus memakai benda listrik itu.

Karena aku belum menemukan ketel yang aku inginkan, aku mulai memakai panci kecil. Sepertinya butuh waktu lama supaya air dalam panci mendidih. Semakin lama situasinya berlangsung, semakin aku merasa frustrasi. Kenapa aku tak bisa menemukan ketel yang akum au?

Lalu Filipi 2: 4 tiba-tiba terngiang dibenakku. “…dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”

Aku mulai sadar kalau ketel yang aku sukai harus seperti yang suamiku inginkan. Bukankah begitu seharusnya cinta bekerja? Dan bukankah begitu cara kerjanya saat kita pertama kali menikah? Kami benar-benar setuju dengan semua keinginan masing-masing, bukan karena kami benar-benar menginginkannya sendiri, tapi karena kami saling mengasihi.

Aku menyadari kalau ini adalah kesempatan untuk memberikan suamiku hadiah yang dia sering berikan kepadaku, hadiah yang diinginkan orang lain.

Di sabtu berikutnya, aku berkata, “Kau tahu apa? Aku pikir kita perlu ketel teh listrik. Kamu mau membantuku untuk memilih satu?”

Aku berharap kamu bisa menyaksikan ekspresi suamiku saat mendengarku mengatakan hal itu. Dia bahkan hampir melompat dari tempat tidur.

Tapi ternyata Tuhan sudah menunggu supaya aku mengalami perubahan hati untuk memberiku sesuatu yang lebih dari sekadar teko teh.

Kami segera menemukan satu teko yang kami sukai. Aku pun bersedia membayar lebih untuk itu. Suamiku tiba-tiba menggenggam tanganku dan menggandengku dengan penuh semangat melalui toko menuju peralatan dapur.

Dari raut wajahnya, dia seolah-olah hendak berkata,” Inilah istriku dan aku mencintainya. Dia sangat peduli tentang setiap detail kehidupanku, bahkan ceret teh sekalipun.”

Ya, aku akan bersedia membayar mahal untuk hadiah tak ternilai yang akan aku berikan.

Saat aku mulai mencoba memakai teko listrik itu, akulah yang malahan yang kerap memuji seberapa cepatnya air mendidih. Seandainya aku tahu tentang informasi ini lebih awal, aku pasti sudah membeli teko itu setahun yang lalu.

Tapi aku memilih bersyukur karena Tuhan sangat mengasihi kita. Kadang, kita tahu apa yang kita rindukan dengan menginginkan apa yang kita inginkan. Kita berpikir kalau apa yang kita inginkan adalah pilihan terbaik dan hal itu akan membuat semuanya menjadi lebih baik dan benar. Tapi seringkali pilihan kita benar-benar berkurang. Aku sangat bersyukur Tuhan tidak mengijinkanku untuk menerima apa yang aku pikir inginkan.

Sekarang saat aku menuangkan secangkir teh lagi dan mengatur ketel kembali ke tempatnya, aku tahu aku selalu ingin memberi ruang di meja kehidupanku untuk apa yang Tuhan mau taruh di sana,s ebuah berkat luar biasa yang mungkin ku tolak.

 

Hak cipta Debbie Burgett, diterjemahkan dari Cbn.com

Kalangan Sendiri

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Layanan Doa dan Bimbingan Rohani CBN Indonesia
Shalom 🙏
Terima kasih sudah mengunjungi kami.
Kami ada untuk mendengarkan, mendoakan, dan mendampingi perjalanan Anda.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?