Kaya Meski Tanpa Tuhan
Kalangan Sendiri

Kaya Meski Tanpa Tuhan

Lori Official Writer
      104

Mazmur 73:3–5, 17

"Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain...sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka."

 

Jika kita boleh jujur kepada diri kita sendiri, setiap kita pasti pernah merasa iri kepada seseorang. Dengan kata lain, ada kalanya kita juga punya keinginan untuk memiliki apa yang orang lain miliki. 

Kita mungkin iri dengan mereka yang mampu membeli rumah yang lebih bagus dan besar. Kita mungkin iri dengan mereka yang punya anak yang bisa diatur dengan mudah. Iri dengan mereka yang bisa membeli mobil keluaran terbaru yang sudah lama kita impikan. Atau iri kepada mereka yang punya jabatan atau pekerjaan dengan gaji yang cukup tinggi.

Inilah pergumulan yang dialami Asaf di Mazmur 73, katanya: "Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain." (Mazmur 73:3–5)

Asaf menyebut mereka "orang fasik." Maksudnya adalah orang-orang yang sombong, sukses, sehat, dan hidup enak — padahal mereka tidak percaya Tuhan. Artinya, bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak percaya Tuhan. Lalu Asaf bertanya, "Kenapa ya orang-orang ini bisa menikmati hidup kaya dan menyenangkan meski tanpa Tuhan? Sementara aku yang sudah memberikan segalanya bahkan semua hidupku, keluargaku, segalanya masih aja hidup begini-begini aja?" 

Keluhan Asaf bisa sama seperti pertanyaan Petrus yang kita bahas di renungan kemarin. Dan pertanyaan Asaf pagi ini bisa kita sederhanakan seperti ini: "Apakah menjalani hidup sebagai orang yang percaya Tuhan (orang Kristen) sepadan dengan usaha yang aku lakukan? Karena aku tidak melihat hasil pekerjaanku sesuai dengan aku harapkan." 

Asaf mungkin sangat bergumul dan seolah ingin berargumen dengan Tuhan. Sampai akhirnya dia tiba di satu titik pencerahan yang mengubah fokusnya. Inilah yang ia sampaikan di dalam ayat 16 dan 17, "Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka." Lalu baca di ayat-ayat selanjutnya hingga akhir, dan disana kita akan mengerti sisi lain yang tidak kita ketahui tentang mengikut Tuhan.

Di akhir Mazmur 73, Asaf berkata dengan penuh keyakinan, "Namun aku tetap di dekat-Mu." Bukan karena hidupnya tiba-tiba menjadi mudah, bukan karena semua keinginannya terpenuhi — tetapi karena ia kembali menyadari bahwa Tuhan sendiri adalah bagiannya yang terbesar. 

Pengalaman Asaf tidak jauh beda dari kita. Kita hidup di dunia yang mengukur segalanya dari materi, bukan tentang seberapa besar teladan iman yang kita lakukan. Karena itu, kita menjadi tergoda untuk mulai iri dengan apa yang dimiliki teman, keluarga, rekan kerja dan orang lain yang bahkan tidak mengenal Tuhan. Lalu kita mulai berkata, “Ya, sepertinya sia-sia saja aku menjaga hatiku tetap bersih dan membasuh tanganku dalam kesucian” ( Mazmur 73:13 ).

Tetapi Tuhan tidak mau kita jatuh dalam iri hati. Seperti Asaf, kita perlu mengubah fokus kita kembali kepada Tuhan. Karena rasa iri tidak akan tumbuh ketika kita memandang Tuhan dan mengingat betapa besar kasih-Nya — kasih yang tidak bisa digantikan oleh rumah besar, jabatan tinggi, atau rekening yang penuh. Kalau kita benar-benar tahu bahwa kita dikasihi Tuhan, hati kita akan penuh syukur dan kita tidak lagi sibuk mengejar apa yang dunia kejar.

 

Pertanyaan Refleksi: 

Adakah sesuatu yang saat ini sedang membuatmu iri kepada orang lain, terutama mereka yang justru tidak percaya kepada Tuhan? 

Ambil satu pelajaran penting dari renungan ini yang bisa Anda terapkan untuk mencegah iri hati terhadap orang lain.



Artikel ini adalah hasil karya dari kontributor kami dan segala isi artikel ini adalah tanggung jawab kontributor.

Ikuti Kami