Prioritas yang Salah Tempat

Renungan Harian / 28 April 2026

Prioritas yang Salah Tempat
Lori Official Writer
      96

Lukas 10:41-42

"Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

 

Jika Anda adalah seorang pemimpin, isu tentang menempatkan prioritas seringkali menjadi topik utama dalam seminar kepemimpinan dan pelatihan leadership. Para pakar manajemen menyebutkan bahwa salah meletakkan prioritas sangat menentukan hasil dari apa yang kita kerjakan.

Namun saya kira ini bukan hanya berlaku di dunia pekerjaan. Di berbagai bidang kehidupan kita — mulai dari tanggung jawab harian, keuangan, hingga kehidupan rohani — prioritas yang salah tempat bisa membawa kita jauh dari tujuan yang sesungguhnya.

Renungan pagi ini mengajak kita merefleksikan kisah Marta dan Maria dalam Lukas 10:38-42. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di rumah Lazarus, kedua saudari itu merespons Khedira Sang Guru dengan cara yang berbeda.

Maria memilih duduk di kaki Yesus dan mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut-Nya (Lukas 10:39). Sementara itu, Marta sibuk mempersiapkan hidangan dan segala kebutuhan tamu. Di tengah kesibukannya, ia merasa kesal karena harus menanggung semuanya sendirian. Maka ia pun mendatangi Yesus dan berkata, "Tuhan, bukankah tidak adil bagi-Mu bahwa saudariku hanya duduk di sini sementara aku melakukan semua pekerjaan? Suruhlah dia datang dan membantuku" (Lukas 10:40).

Tetapi Yesus menjawab dengan lembut: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara..." (Lukas 10: 41)

Sebelum kita terburu-buru menyalahkan Marta, mari kita lihat konteksnya secara lebih jujur. Di masa itu, perempuan memang mengambil peran utama dalam menyambut dan melayani tamu — menyiapkan makanan, mencuci tangan dan kaki mereka, menyediakan tempat beristirahat, dan berbagai pekerjaan rumah lainnya.

Jadi, bukan pelayanannya yang bermasalah. Masalah sesungguhnya adalah ketika kesibukan itu mulai mengalihkan fokus utamanya — hingga ia kehilangan momen yaitu "hadir sepenuhnya bersama Yesus." Lebih jauh lagi, ia mulai mengeluh dan membandingkan dirinya dengan Maria. Di sinilah titik masalahnya, bukan pada apa yang ia kerjakan tetapi pada apa yang telah ia lewatkan. 

Di masa ini, kita juga perlu jujur mengakui bahwa terkadang kita ada di posisi seperti Marta — kesibukan membuat kita lupa pada hal yang paling utama, entah itu sebagai pemimpin yang kehilangan prioritas, orangtua yang mulai meninggalkan mezbah doa, pekerja yang sibuk memikirkan kritikan dan gosip, atau anak muda yang lebih mengikuti tren dunia daripada membaca Alkitab. 

Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk duduk diam seperti Maria, mendengarkan Yesus dan membiarkan Dia menata ulang prioritas hidup kita. Karena jika kita mengeluh karena kelelahan, mungkin kita salah memulai hari kita dan lupa meminta hikmat-Nya untuk menuntun kita melakukan hal yang benar-benar penting.

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?