Makna Hidup yang Utuh dan Penuh
Kalangan Sendiri

Makna Hidup yang Utuh dan Penuh

Lori Official Writer
      253

Matius 19:20-21

"Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

 

Pernahkah Anda bangun di pagi hari dengan perasaan kosong, seolah hidup berjalan begitu saja tanpa arah yang jelas? Atau justru Anda sudah memiliki banyak hal—pekerjaan, relasi, pencapaian—namun tetap merasa ada yang kurang di dalam hati?

Perasaan itu ternyata juga dialami oleh seorang anak muda kaya di dalam Alkitab. Ia datang kepada Yesus dengan pertanyaan yang sama: “Apa lagi yang masih kurang?” Ia sudah melakukan semua yang dianggap benar. Dari luar, hidupnya bahagia saja, tetapi ternyata ada perasaan kurang puas dan utuh di dalamnya. 

Menariknya, Yesus memintanya untuk melakukan satu hal yang anti-mainstream. Kata-Nya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (ayat 21).

Yesus memakai kata sempurna (dalam Bahasa Yunani "teleios") bukan berarti tidak punya cacat cela. Melainkan utuh dan penuh. Tetapi kita tahu bagaimana respons anak muda itu. Dia pergi dengan sedih karena tidak bersedia melepaskan miliknya.

Sementara kita bisa melihat para murid, yang bahkan hanya membawa apa yang mereka punya secukupnya untuk ikut kemanapun Yesus pergi. Meskipun nyatanya sebagian dari mereka sebelumnya sudah punya hidup yang terjamin, mereka mau meninggalkan semuanya. 

Kok bisa? Perbedaan terbesar antara anak muda yang kaya itu dan para murid bukan terletak pada jumlah harta, tetapi pada apa yang mereka lihat dan percayai tentang Yesus.

Para murid tidak hanya mendengar ajaran Yesus—mereka mengalami Dia secara pribadi. Mereka melihat kuasa-Nya, merasakan kasih-Nya, dan menyadari bahwa di dalam Dia ada hidup yang kekal. Dalam perjumpaan itu, hati mereka diubahkan. Apa yang dulu terasa penting, perlahan menjadi tidak lagi utama. Artinya, para murid melihat Yesus sebagai pusat hidup itu sendiri. Sementara anak muda itu masih melihat Yesus sebagai pelengkap. 

Inilah yang membedakan para murid dengan kita yang masih mencari makna hidup hari ini. Seringkali kita ingin Tuhan hadir dalam hidup kita — tetapi hanya sebagai pelengkap, bukan sebagai tujuan. Kita ingin ketenangan, ingin merasa bermakna, ingin merasa puas, tetapi tanpa benar-benar menyerahkan kendali. Sementara para murid, sudah berada di titik penyerahan total. Bukan karena mereka tidak realistis memandang hidup, tetapi karena mereka sudah menghidupi iman di dalam Kristus. 

Mereka percaya bahwa kehilangan di dunia ini tidak sebanding dengan kehidupan yang mereka terima di dalam Dia. Bagi mereka Yesus lebih dari cukup. 

Jadi "Apa hal yang ingin Anda lakukan agar hidup Anda menjadi utuh dan penuh makna?"

Ikuti Kami