Isu fatherless atau anak yang bertumbuh tanpa kehadiran ayah secara emosional semakin sering dibicarakan di Indonesia. Tidak sedikit anak yang mungkin masih tinggal satu rumah dengan ayahnya, tetapi tidak benar-benar merasakan kedekatan, perhatian, atau keterlibatan sang ayah dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal, anak bukan hanya tanggung jawab seorang ibu. Terutama bagi orang percaya, anak adalah titipan Tuhan yang dipercayakan kepada orangtua, artinya kepada ayah dan ibu, bukan kepada salah satunya saja.
Ayah juga memiliki peran penting untuk mendidik, membimbing, membangun karakter, dan hadir secara utuh bagi anak-anaknya, terutama bagi orang percaya.
Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan ayah adalah bermain bersama anak. Sebab ternyata, ada hal-hal tertentu yang sangat mungkin anak dapatkan ketika main sama ayah, terutama dalam hal keberanian, rasa aman, penguasaan diri, dan kemampuan mengelola emosi.
BACA JUGA: Kenapa Anak Tanpa Figur Ayah Lebih Rentan Menjadi Korban Kekerasan? Ini 4 Faktornya...
Main Sama Ayah Bantu Anak Mengatur Emosi
Kajian dari Fakultas Pendidikan Universitas Cambridge, Inggris, bersama Yayasan LEGO menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam permainan, khususnya saat anak berusia 0-3 tahun, memiliki dampak positif bagi perkembangan emosi anak di kemudian hari.
Saat anak main sama ayah, terutama melalui permainan fisik seperti kejar-kejaran, digelitik, atau bermain kuda-kudaan, anak mendapat kesempatan untuk melatih kontrol diri dalam suasana yang aman. Mereka belajar kapan harus berhenti, bagaimana mengatur tenaga, dan bagaimana merespons perasaan marah, terlalu bersemangat, atau kecewa.
Meski permainan ini terlihat sederhana, momen ini menjadi ruang belajar yang penting. Anak bukan hanya tertawa dan bergerak aktif, tetapi juga belajar memahami batasan, aturan, serta cara mengendalikan diri.
BACA JUGA: Surat Terbuka untuk Seluruh Ayah di Indonesia dari Fatherless Generation
Ada Hal yang Anak Dapatkan dari Bonding dengan Ayah
Ayah dan ibu sama-sama penting, tetapi keduanya bisa memberi pengalaman yang berbeda bagi anak. Ayah cenderung lebih sering mengajak anak melakukan permainan fisik yang aktif dan penuh energi.
Permainan seperti ini membantu anak belajar menghadapi tantangan kecil, mengambil risiko yang aman, memahami batas tubuhnya, dan mengatur respons emosinya.
Ketika anak main sama ayah, mereka merasakan bahwa dunia bisa menjadi tempat yang aman untuk mencoba, gagal, tertawa, dan belajar. Di situlah bonding dengan ayah menjadi sangat penting.
Anak yang memiliki waktu bermain berkualitas dengan ayah cenderung lebih mampu mengendalikan agresi, lebih kecil kemungkinan mengalami masalah perilaku, dan lebih siap menghadapi konflik sosial ketika berinteraksi dengan teman sebaya.
BACA JUGA: Firman Tuhan Khusus untuk Anda yang Sudah Menjadi Seorang Ayah
Ayah Juga Dipanggil untuk Mendidik Anak
Dalam iman Kristen, mendidik anak bukan hanya tugas ibu. Ayah juga mendapat mandat dari Tuhan untuk terlibat langsung dalam kehidupan anak.
Efesus 6:4 berkata, “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ayah tidak dipanggil hanya untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga secara materi. Ayah juga dipanggil untuk hadir, mendidik, menasihati, dan memberi teladan dalam kasih.
Karena itu, main sama ayah bisa menjadi bagian dari proses pendidikan rohani dan karakter anak. Lewat bermain, ayah dapat mengajarkan kesabaran, penguasaan diri, keberanian, kelembutan, dan disiplin dengan cara yang dekat dengan dunia anak.
BACA JUGA: 8 Karakter yang Harus Dimiliki Ayah Sesuai dengan Alkitab agar Terhindar dari Fatherless
Permainan Fisik Bisa Membentuk Karakter
Kajian tersebut menemukan bahwa permainan fisik antara ayah dan anak dapat menjadi ruang latihan bagi anak untuk mengatur diri. Ketika anak bermain dengan penuh semangat, anak belajar bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar.
Misalnya, anak belajar untuk tidak memukul terlalu keras, berhenti ketika diminta, menunggu giliran, atau mengendalikan rasa kesal ketika permainan tidak berjalan sesuai keinginannya.
Nilai ini sejalan dengan buah Roh (Galatia 5:22-23). Salah satunya adalah penguasaan diri. Anak tidak otomatis memiliki penguasaan diri, mereka perlu dibimbing, dilatih, dan diberi contoh melalui pengalaman sehari-hari.
BACA JUGA: Pernah Fatherless, Tuhan Ajari Saya Belajar Jadi Orangtua yang Hadir Sepenuhnya – Fitria
Anak Membutuhkan Kehadiran Ayah
Kehadiran ayah tidak bisa digantikan hanya dengan uang, fasilitas, atau nasihat. Anak membutuhkan waktu, perhatian, sentuhan kasih, dan pengalaman nyata bersama ayahnya.
Meluangkan waktu bermain sama anak tidak harus mahal atau rumit. Ayah bisa mulai dari hal sederhana seperti bermain di ruang tamu, menemani anak berlari, bercanda sebelum tidur, atau memberi waktu khusus tanpa gangguan gawai.
Bagi seorang ayah Kristen, menghabiskan waktu dengan anak sudah menjadi tanggungjawabnya untuk menggembalakan keluarga, membangun karakter anak, dan menanamkan nilai-nilai Kerajaan Allah sejak dini.
Isu fatherless yang semakin menjadi perhatian, para ayah perlu kembali menyadari perannya. Anak bukan hanya perlu ibu yang hadir dan penuh kasih, tetapi juga ayah yang mau terlibat, mendidik, dan membangun kedekatan.
BACA JUGA: Inilah Alasan Kenapa Anak Harus Dekat dengan Ayahnya Dari Sekarang!
Tentu, tidak semua keluarga berada dalam kondisi yang mudah. Ada ayah yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan berusaha menjadi ayah yang hadir. Ada juga ibu yang merasa memikul semuanya sendirian, dan ada anak yang menyimpan luka karena kurangnya kehadiran orangtua. Bila Anda sedang bergumul dalam keluarga, jangan hadapi semuanya sendirian.
Tim Layanan Doa Jawaban siap mendampingi dan mendoakan Anda. Hubungi kami melalui WhatsApp di 0822-1500-2424 atau klik tombol live chat di pojok kanan bawah. Anda tidak sendirian, Tuhan peduli pada keluarga Anda.
Sumber : Berbagai SumberIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”