Datang untuk Memulihkan Rasa Bersalah
Kalangan Sendiri

Datang untuk Memulihkan Rasa Bersalah

Lori Official Writer
      142

Yohanes 20: 19-20

"Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan."

 

Pernahkah kamu melakukan kesalahan besar kepada seseorang yang kamu kasihi — lalu menghindari mereka karena tidak sanggup menanggung tatapan kecewa di mata mereka? Kamu tahu mereka tahu. Kamu tahu kata maaf saja tidak cukup. Maka kamu memilih diam, menjauh, dan berharap waktu entah bagaimana menyelesaikan semuanya.

Itulah persis yang sedang dialami para murid malam itu.

Mereka bersembunyi di balik pintu terkunci — bukan hanya dari ancaman luar, tetapi dari beban batin mereka sendiri. Mereka telah lari saat Yesus ditangkap. Petrus menyangkal-Nya tiga kali. Kini mereka duduk diam dalam rasa malu, bertanya-tanya apakah mereka masih layak disebut murid-Nya.

Lalu Yesus datang. Ia menerobos pintu yang terkunci — tepat ke ruangan tempat mereka bersembunyi — dan kata pertama yang keluar dari mulut-Nya bukan teguran. Bukan, "Di mana kalian saat Aku membutuhkan kalian?" Sebaliknya, Ia berkata: "Damai sejahtera bagi kamu." (Yohanes 20: 19)

"Shalom" bukanlah sekadar ucapan damai, melainkan pemulihan penuh atas semua yang telah hancur.

Kemudian Ia menunjukkan luka di tangan dan lambung-Nya. Bukan sebagai tuduhan atas pengkhianatan mereka, melainkan sebagai bukti kesetiaan-Nya: "Aku menanggung ini semua, dan Aku tetap kembali untuk kalian." Tak ada sidang, tak ada daftar kesalahan. Hanya kasih yang hadir tanpa syarat di tengah kegagalan manusia.

Ketika para murid melihat Tuhan, mereka bersukacita. Sukacita itulah yang mengubah segalanya. Petrus yang dengan sadar menyangkal Dia justru akan berdiri untuk menyatakan kuasa-Nya dengan berani. Para murid yang bersembunyi ketakutan akan terpencar memberitakan Injil tanpa takut. Bukan karena mereka tiba-tiba menjadi pemberani — tetapi karena mereka telah berjumpa dengan Yesus yang bangkit, yang datang bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memulihkan dan mengutus kembali.

 

Refleksi Pribadi:

Adakah "pintu terkunci" dalam hidupmu — ruang tersembunyi tempat kamu menyimpan rasa malu atas kegagalanmu mempercayai Tuhan? 

Hari ini Dia mendatangi setiap kita, bukan untuk menghakimi kita. Tetapi untuk meyakinkan kita bahwa Dia adalah Allah yang bahkan berkuasa atas maut. 

Ikuti Kami