Penelitian: Klik 'Suka' di Facebook, Kecerdasan pun Terukur

Penelitian: Klik 'Suka' di Facebook, Kecerdasan pun Terukur

Yenny Kartika Official Writer
3164

Jika Anda menyukai badai halilintar atau kentang goreng, maka Anda adalah seorang jenius. Tetapi kalau Anda menyukai Harley-Davidson atau band Lady Antebellum, maka Anda jauh dari cerdas.

Mungkin terdengar tak masuk akal, tetapi itulah hasil penelitian yang diperoleh tim Pusat Psikometrik Universitas Cambridge bekerjasama dengan Microsoft Research Cambridge. Dengan menganalisis ‘Suka’ atau ‘Like’ yang dibuat oleh 58.466 peserta sukarelawan, dapat diuraikan informasi pribadi para pengguna Facebook, yang umumnya tidak dipublikasikan. Informasi pribadi tersebut antara lain jenis kelamin, di mana mereka beribadah, siapa yang akan mereka pilih dalam pemilu, dan berapa tingkat IQ mereka.

Dalam 95 persen kasus yang mereka tangani, tim peneliti dapat menentukan apakah si pengguna termasuk orang Kaukasia atau Afrika-Amerika. Sementara itu, dalam 88 persen kasus, dapat ditentukan apakah si pengguna bersifat heteroseksual atau homoseksual. Kepercayaan seseorang juga bisa diketahui, apakah dia Kristen atau Islam.

Peserta diminta menggunakan sebuah aplikasi Facebook bernama “myPersonality” yang berfungsi untuk menelusuri setiap ‘Suka’ yang telah dibuat. Hasil penelusuran diolah dengan algoritma-algoritma tertentu.

Pengguna yang menyukai ‘Barack Obama’ diklaim sebagai orang yang akan memberi suara untuk partai Demokrat pada pemilihan mendatang. Sementara pengguna yang meng-klik ‘Suka’ pada ‘Being Gay’ (Menjadi Gay) setidaknya menunjukkan jenis kelaminnya secara tak langsung.

Meskipun beberapa hasilnya mungkin terdengar konyol, penelitian ini mengingatkan para pengguna Facebook tentang privasi. Secara baku, fitur ‘Suka’ dapat diakses secara umum. Setiap informasi yang diatur ‘privat’, tanpa disadari dapat diakses secara ‘publik’ oleh pemasang iklan, kelompok politik, dan pencinta teknologi yang punya kemampuan matematika tinggi, hanya dengan melihat ‘Suka’ yang pernah dibuat.

Namun, kondisi ini tak hanya terjadi di Facebook. Peneliti mengatakan bahwa informasi pribadi dapat dilacak oleh siapapun melalui sejarah berselancar di peramban (browser), kata-kata yang sering dicari, dan sejarah pembelanjaan online.

Apapun yang kita bagikan secara online, tidak pernah bersifat privat. Meskipun kita mengerahkan setiap usaha untuk menutup rapat-rapat privasi kita, tampaknya akan jauh lebih baik jika kita menyaring informasi apa saja yang patut dibagikan dan yang sebaiknya disimpan.

 

Baca juga artikel lainnya:

Google, Facebook, dan Twitter Imbau Media Kristen untuk Lebih Proaktif

Code.Org: Belajar Pemrograman Online

Facebook Jadi Target Serangan Hacker

Seorang Ayah Bayar Anaknya $200 Demi Facebook

Sudah Tersedia Aplikasi Telepon Gratis dari FB

Chris Bacon, Babi Imut Sensasional di Youtube

Kristen di RRC Pakai Sosial Media Internet untuk Misi

Yesus Akan Gunakan Facebook dan Twitter

Di Washington, Tak Boleh Doa Kepada Yesus Kristus

Pendeta Ini Rela Jual Jam Tangannya Demi Tagihan Listrik Gereja

Ketulusan Seorang Security untuk Memberi

Wanita Ini Mengampuni Suami yang Selingkuh 6 Tahun

Sumber : Wired | yk
Halaman :
1

Ikuti Kami