Amsal 6:6-9
"Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau bangun dari tidurmu?"
Pernahkah kita merasa besok masih panjang, jadi hari ini boleh sedikit santai dulu? Atau merasa satu jam yang terbuang sia-sia bukan masalah besar, toh masih banyak waktu lainnya? Nah, Amsal 6:6-9 justru menegur cara berpikir seperti ini dengan cukup keras.
Menariknya, Salomo tidak menegur si pemalas dengan nasihat panjang lebar. Ia justru menyuruhnya belajar dari seekor semut. Kenapa semut? Sebab semut bekerja tanpa ada yang menyuruh, tanpa pemimpin yang mengawasi, tanpa aturan yang memaksa. Ia menyediakan makanannya sendiri di musim panas dan mengumpulkan bekal saat musim panen, karena ia tahu persis bahwa musim tidak akan menunggu kesiapannya. Semut ini bergerak bukan karena terpaksa, tapi karena punya kesadaran akan waktu yang terbatas.
Bandingkan dengan si pemalas dalam ayat ini, yang justru masih berbaring sambil bertanya-tanya kapan ia akan bangun. Ada jeda yang cukup panjang antara menyadari sesuatu perlu dikerjakan dengan benar-benar bangun dan melakukannya. Jeda inilah yang sering kita sebut sebagai penundaan, dan Alkitab menyebutnya bukan sekadar kebiasaan buruk, tapi bentuk kemalasan yang serius.
Kita mungkin berpikir menunda sedikit tugas atau membiarkan waktu berlalu tanpa hasil bukanlah dosa besar. Tapi coba renungkan Pengkhotbah 9:10, yang mengingatkan kita untuk mengerjakan dengan sekuat tenaga segala yang dijumpai tangan kita untuk dikerjakan, karena di dunia orang mati tidak ada lagi pekerjaan, perhitungan, pengetahuan, atau hikmat. Waktu yang kita punya hari ini tidak akan pernah kembali dua kali. Setiap jam yang terbuang karena kemalasan sesungguhnya adalah bagian dari 24 jam yang Tuhan percayakan, namun gagal kita kelola dengan baik.
Efesus 5:16 juga mengingatkan kita untuk mempergunakan waktu yang ada, sebab hari-hari ini adalah jahat. Ini bukan berarti kita harus terus sibuk tanpa henti, tapi kita dipanggil untuk sadar bahwa waktu adalah anugerah yang harus dijaga, bukan sesuatu yang bisa kita sia-siakan begitu saja.
Seperti semut yang bergerak tanpa perlu diperintah, mari kita juga belajar peka terhadap musim yang Tuhan berikan, dan tidak menunggu sampai semuanya terlambat baru kita bergerak.
Refleksi Pribadi:
1. Adakah kebiasaan menunda dalam hidup Anda yang sebenarnya sedang mencuri berkat yang Tuhan sudah sediakan?
2. Hari ini, langkah kecil apa yang bisa Anda ambil untuk berhenti "berbaring" dan mulai bergerak sesuai musim yang Tuhan percayakan?
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Amin
Amin
Blessed. Jangan menunda.