1 Timotius 2: 1–2
"Karena itu, pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar..."
Salah satu rekan sepelayanan kami di gereja belum lama ini berangkat ke Qatar untuk memulai pekerjaan barunya. Namun kemudian ia membagikan kabar bahwa di sana mereka juga ikut terdampak konflik Iran–Amerika. Setiap hari mereka harus mendengar dentuman rudal balistik di udara dengan deru suara yang menimbulkan kepanikan.
Kita mungkin juga sudah melihat berita ini berseliweran di berbagai sumber berita online maupun media sosial setiap hari. Tetapi yang menarik untuk direnungkan adalah bagaimana respons pertama kita saat mendengar berita seperti ini? Atau sebagai rekan sepelayanan dari teman kita yang menyaksikan langsung ketegangan konflik di sana, respons seperti apa yang seharusnya kita tunjukkan?
Pagi ini saya mengajak kita semua untuk kembali kepada peran esensial kita sebagai satu tubuh Kristus. Ayat renungan hari ini dari 1 Timotius 2 menjadi pengingat betapa pentingnya kita tidak hanya menjadi “penonton” atau “pendengar” yang pasif.
Di zaman yang serba individualistis ini, tidak bisa dipungkiri banyak orang hidup berpusat pada dirinya sendiri. Seolah-olah keadaan di sekitar adalah urusan orang lain. Tanpa sadar, kita menjadi pasif dalam menanggapi kondisi yang sedang terjadi.
Ketika kita melihat konflik antarnegara semakin memanas, apakah kita hanya berkata, “Iya, negara itu saling serang ya. Wah, perang ini.” Lalu selesai sampai di situ? Atau ketika kita mendengar ada teman, keluarga, atau orang lain yang sedang menghadapi situasi terjepit, apakah kita hanya berkata, “Yang sabar ya. Semua ini pasti seizin Tuhan.”
Respons seperti ini sering kali hanya memposisikan kita sebagai pendengar yang pasif.
Melalui nasihat rasul Paulus, kita diingatkan kembali akan peran esensial kita sebagai tubuh Kristus yaitu menjadi pribadi yang aktif merespons keadaan dalam doa dan dukungan.
"Karena itu, pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar..." (1 Timotius 2:1–2)
Di tengah situasi yang sedang terjadi, alih-alih hanya menjadi penonton atau pendengar, mari mengambil tindakan aktif. Ambillah waktu secara pribadi atau secara korporasi untuk berdoa bagi mereka yang sedang tidak baik-baik saja — para pemimpin, pembesar, maupun siapa pun yang sedang berada dalam tekanan dan himpitan.
Senjata terbaik yang kita miliki adalah doa, disertai dukungan langsung berupa pelukan, pendampingan atau penghibur. Kita percaya bahwa melalui doa, Tuhan bertindak melampaui kuasa yang kita miliki (Filipi 4:6–7). Dialah yang MAHA PENGENDALI atas segala sesuatu (Mazmur 103:19).
Hari ini, saya mengajak Anda untuk melihat ke sekitar. Selain berdoa bagi konflik global yang sedang terjadi, mungkin ada orang-orang di sekitar Anda yang juga membutuhkan dukungan. Doakan mereka. Dengan cara ini, kita sedang mengaktifkan kasih dan kuasa Tuhan yang ada di dalam kita untuk mengalir atas keadaan dan hidup orang lain.
Selamat berpraktek. Tuhan Yesus memberkati!