Shalom, apa kabar saudara? Saya berdoa sukacita yang besar ada atas hidup Anda saat ini. Apalagi saat kita kembali bisa diteguhkan oleh kebenaran Firman Tuhan setiap hari, termasuk hari ini lewat sebuah topik yang saya percaya akan memberkati setiap kita, yang saya beri judul "Menjadi Jembatan Bagi Keselamatan Sesama"
Ayat Renungan: Kisah Para Rasul 9: 15 - "Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel."
Dalam perjalanan iman, sering kali kita mengagumi tokoh-tokoh besar yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Namun di balik kisah-kisah besar itu, ada sosok-sosok sederhana yang ketaatannya justru menjadi titik balik sejarah keselamatan. Salah satunya adalah Ananias.
Nama Ananias mungkin jarang disebut, tetapi perannya sangat menentukan. Tuhan memintanya mendatangi Saulus—seorang penganiaya jemaat, sosok yang ditakuti dan dihindari banyak orang. Secara manusiawi, perintah itu tidak masuk akal. Ada risiko, ketakutan, dan ancaman nyata. Namun Ananias memilih taat, bukan karena ia tahu hasil akhirnya, tetapi karena ia percaya kepada Tuhan yang memberi perintah.
Ananias tidak tahu bahwa Saulus akan menjadi Rasul Paulus—penulis sebagian besar Perjanjian Baru dan alat Tuhan untuk menjangkau bangsa-bangsa. Ia hanya tahu satu hal: hari itu, di tempat ia berdiri, Tuhan memintanya menjadi jembatan.
Di sinilah sudut pandang penting bagi kita hari ini: Tuhan tidak selalu memanggil kita untuk menjadi tokoh utama, tetapi sering kali memanggil kita menjadi jembatan penghubung. Sebagai jembatan berarti bersedia dipakai Tuhan di tengah ketegangan, ketidaknyamanan, bahkan risiko. Jembatan tidak menjadi tujuan akhir, tetapi tanpanya, banyak orang tidak akan pernah sampai ke tujuan.
Ketaatan memang sering menuntut harga. Bisa jadi harga itu adalah rasa takut, ego, prasangka, atau kenyamanan pribadi. Namun ketaatan juga membuka ruang bagi penyertaan Tuhan. Saat kita melangkah dengan iman, Tuhan menyediakan keberanian, hikmat, dan perkenanan-Nya.
Lebih dari itu, satu tindakan ketaatan bisa membawa dampak yang jauh melampaui apa yang kita lihat hari ini. Apa yang kita anggap kecil—doa, perhatian, sapaan, atau keberanian mendekati seseorang—bisa menjadi awal dari perjalanan keselamatan banyak orang. Kita mungkin tidak pernah melihat hasil akhirnya, tetapi Tuhan melihat gambaran besarnya.
Hari ini, Tuhan masih mencari Ananias-Ananias di zaman ini. Orang-orang yang bersedia berkata, “Ya, Tuhan,” meski belum mengerti sepenuhnya.
Momen Refleksi:
1. Adakah “Saulus” di sekitar Anda saat ini, seseorang yang sulit dikasihi, ditolak oleh banyak orang, atau selama ini Anda hindari?
2. Apa yang menghalangi Anda untuk menjadi jembatan? Rasa takut, penghakiman, luka masa lalu, atau kenyamanan pribadi?
3. Ambil waktu untuk berdoa dan berkata, “Tuhan, jadikan aku jembatan-Mu hari ini. Pakailah hidupku untuk membawa satu jiwa mengenal kasih-Mu, meski aku tidak melihat hasilnya sekarang.”
Kiranya kita setia bukan hanya ingin dipakai Tuhan untuk sesuatu sorot, tetapi dipakai untuk sesuatu yang bahkan tak terlihat dimata manusia namun berdampak kekal.
Tuhan Yesus memberkati.
Hak Cipta ©Maria Kaesmetan, Departemen Spiritual Life CBN Indonesia