Ikut Tuhan Tapi Kok Sulit?
Kalangan Sendiri

Ikut Tuhan Tapi Kok Sulit?

Lori Official Writer
      55

Matius 19:27

"Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: 'Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?'"

 

Pernahkah Anda merasa bahwa mengikut Tuhan justru membuat hidup terasa lebih berat? Kita melepaskan semua yang kita punya untuk mengikut Dia. Tapi hidup kita justru tidak jauh lebih mudah. Lalu sebuah pertanyaan muncul: "Apakah yang aku lakukan sebanding dengan yang akan aku peroleh?"

Petrus pernah melontarkan pertanyaan yang sama kepada Yesus. Ia dan murid-murid yang lain rela meninggalkan semua yang mereka punya - pekerjaan, keluarga, posisi dan semuanya, demi mengikut Yesus. Begini kata Petrus, "Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau..."(Matius 19: 27) Inilah yang mereka sudah lakukan. Tetapi kemudian dia meminta kepastian dari Yesus, "Apakah yang akan kami peroleh?" 

Pertanyaan Petrus bukanlah keluhan seorang yang menyesal, melainkan kerinduan seseorang yang ingin memahami makna dari pengorbanan yang telah ia lakukan. Ia hanya ingin memastikan bahwa perjalanan ini bukan sebuah kesia-siaan.

Menariknya di sini, Yesus tidak menghakimi atau mengkritik Petrus. Sebaliknya, Ia menjawab dengan penuh kasih dan kepastian: "...kamu yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal." (Matius 19:28–29)

Yesus tidak berjanji bahwa jalan mengikut-Nya akan mudah. Namun Ia berjanji bahwa setiap pengorbanan atas nama-Nya tidak akan pernah sia-sia.

Inilah yang dialami oleh seorang Paulus - karir, kehormatan dan kenyamanan bersedia dia pertaruhkan demi mengikut Yesus (Filipi 3: 8). Apa yang dunia sebut "kerugian", Paulus sebut "keuntungan terbesar". Bukan karena ia mengabaikan realita kehidupan, tetapi karena ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih bernilai dari segala yang pernah ia miliki.

Para murid membuktikan hal ini. Setelah bertemu Yesus yang bangkit dan menerima mandat untuk meneruskan pelayanan-Nya, mereka tahu perjalanan ke depan tidak akan mudah. Namun mereka tetap setia — hingga garis akhir — dan menghasilkan buah penuaian jiwa yang luar biasa bagi dunia. Keteguhan mereka bukan bersumber dari kekuatan diri sendiri, melainkan dari keyakinan bahwa Tuhan yang memanggil mereka tidak pernah ingkar janji.

Yesus juga mau mendorong setiap kita yang memilih mengikut Tuhan dengan cara yang sama. Mungkin kita juga akan bertanya seperti Petrus, "Kalau aku melayani Tuhan atau memberikan seluruh hidup untuk Tuhan, lalu apa yang akan aku peroleh?"

Mungkin hari ini kamu lelah. Mungkin kamu merasa pengorbananmu tidak dilihat siapapun. Tapi percayalah: "Dia yang memanggil kita adalah setia." Tuhan tidak memanggil kita untuk sebuah kesia-siaan. Dia memanggil kita untuk meneruskan teladan yang mendatangkan keselamatan bagi semua orang. 

 

Refleksi Pribadi:

Apakah aku masih bertanya-tanya tentang pengorbanan yang sudah aku lakukan untuk Tuhan dan menuntut apa yang harus aku dapatkan?

Lewat renungan pagi ini, mari belajar bahwa setiap kita tidak sedang menjalani hidup yang biasa-biasa saja, sebaliknya setiap kita diberikan panggilan yang istimewa untuk tujuan kekekalan.

 

Ikuti Kami