Pernyataan Calvyn Dores tentang niatnya menjual mata melalui Instagram Story mendadak viral dan menyita perhatian publik. Bukan hanya netizen, tetapi juga orang-orang yang mengenalnya ikut terkejut. Banyak yang sulit membayangkan bagaimana seorang anak dari musisi legendaris bisa sampai di titik seputus asa itu.
BACA JUGA: Kisah Gaby Bunga Saputra Jadi Yatim Piatu, Ini Warisan Terbesar Orang Tuanya
Namun di balik kalimat yang terdengar ekstrem tersebut, ada cerita yang jauh lebih besar, cerita tentang perjalanan hidup seorang anak, yang kemudian tumbuh menjadi ayah, dan bagaimana pengalaman masa kecil membentuk cara ia memaknai perannya sebagai seorang ayah hari ini.
Calvyn bukan berasal dari latar belakang biasa. Ia tumbuh di masa ketika ayahnya, Deddy Dores, berada di puncak kesuksesan. Hidupnya penuh kenyamanan, fasilitas lengkap, dikelilingi orang-orang, bahkan memiliki standar hidup yang mungkin hanya dimiliki segelintir anak. Masa kecilnya bisa dibilang “terlalu mewah”.
Namun kehidupan tidak selalu berjalan seperti itu. Ketika keluarga mulai berubah, hubungan orang tua tidak lagi utuh, dan akhirnya ia kehilangan sosok ayah, kehidupan Calvyn ikut berubah drastis. Dari yang serba ada, menjadi penuh ketidakpastian. Ia bahkan tidak menyelesaikan pendidikan formalnya. Di titik inilah terlihat satu hal penting dalam parenting, kemewahan tanpa fondasi mental dan nilai hidup tidak cukup untuk menghadapi realita hidup.
Waktu terus berjalan. Calvyn tumbuh dan kini menjadi seorang ayah. Tapi hidup tidak berjalan mudah. Ia mencoba banyak hal, mulai dari berjualan, bekerja serabutan, bahkan menjadi ojek online untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hingga akhirnya, dalam kondisi kelelahan dan terhimpit, muncul pernyataan yang kemudian viral itu, ingin menjual mata.
Yang sering tidak dilihat orang adalah alasan di baliknya. Bukan untuk gaya hidup, bukan untuk mengejar mimpi pribadi, tapi karena satu hal, yaitu anak dan keluarganya.
Menjadi orang tua bukan berarti selalu punya jawaban. Tidak selalu harus kuat tanpa celah. Tapi tentang bagaimana tetap bertahan, bahkan ketika kita tidak tahu harus ke mana lagi. Keputusan ekstrem yang dipikirkan Calvyn bukan tanda ia menyerah sebagai ayah, tetapi justru gambaran betapa besar rasa tanggung jawab yang ia rasakan.
Menariknya, di tengah kondisi yang sulit itu, respons anaknya justru membuka perspektif yang berbeda. Saat mendengar kondisi ayahnya, sang anak berkata bahwa ia tidak membutuhkan apa-apa selain ayahnya sendiri. Kalimat sederhana ini menjadi pengingat penting dalam dunia parenting, bahwa anak tidak mengukur cinta dari materi, tapi dari kehadiran dan usaha orang tuanya.
Kisah Calvyn juga menunjukkan bahwa parenting bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Cara seseorang menjadi orang tua sering kali berakar dari pengalaman masa kecilnya. Apa yang ia alami, broken home, kehilangan, perubahan hidup drastis, dan kurangnya stabilita membuatnya memiliki satu tekad, bahwa anaknya tidak boleh merasakan hal yang sama.
Selain itu, ada satu fondasi lain yang membantu Calvyn tetap bertahan yaitu iman. Dalam kondisi di mana semua terasa buntu, ia memilih tetap berbicara dengan Tuhan, berharap ada jalan. Ini menunjukkan bahwa dalam parenting, bukan hanya kebutuhan fisik yang penting dipenuhi, tapi juga kekuatan mental dan spiritual dalam keluarga.
Pada akhirnya, viralnya cerita “jual mata” bukan sekadar sensasi. Itu adalah potret nyata tentang bagaimana seorang ayah berjuang di titik paling bawah hidupnya. Di luar sana, mungkin ada banyak orang tua yang tidak viral, tapi menghadapi pergumulan serupa setiap hari.
BACA JUGA: Pola Parenting 777 Cara Jessica Iskandar dan Vincent Verhaag Mendidik Anak
Dari kisah ini, kita belajar satu hal penting:
"Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna atau selalu berhasil, tapi orang tua yang tetap bertahan untuk mereka, apa pun kondisinya."
Jika hari ini Anda mungkin berada di satu titik yang sama dengan yang dialami oleh Calvyn Dores. Anda tidak sendirian, ada Layanan Doa CBN yang siap mendengarkan Anda dan mendukung Anda di dalam doa dengan cara menghubungi nomor WhatsApp 0822-1500-2424, atau di Layanan Live Chat di pojok kiri bawah website ini.
Sumber : Podcast Melaney Ricardo | Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”