Pernah terpikir, apa yang benar-benar akan anak kita ingat saat kita sudah tidak ada? Bukan rumah. Bukan tabungan. Tapi bagaimana kita hidup, itulah yang paling membekas.
Kisah Gaby Bunga Saputra dan kedua adiknya menjadi pengingat yang kuat. Di usia muda, mereka harus kehilangan kedua orang tua. Namun alih-alih tumbuh dalam rasa kehilangan, mereka justru hidup dengan “bekal” yang tidak terlihat, nilai hidup yang terus menuntun mereka sampai hari ini.
Gaby bercerita di Podcast Melaney Ricardo, orang tuanya tidak meninggalkan warisan materi yang besar. Tapi ada satu hal yang selalu mereka lihat sejak kecil yaitu kebaikan yang nyata.
Ayahnya pernah hanya memiliki Rp1 juta di rekening, tapi tetap memberi kepada orang lain. Bagi sebagian orang, itu mungkin tidak masuk akal. Tapi bagi anak-anaknya, itu adalah pelajaran hidup yang melekat kuat, bahwa memberi bukan soal punya banyak, tapi soal hati.
Sebagai orang tua, kita sering berpikir anak butuh “cukup” secara materi. Padahal, yang jauh lebih penting adalah apa yang mereka lihat setiap hari.
Di rumah Gaby, cinta terasa sederhana tapi utuh. Orang tuanya tidak pernah melibatkan anak-anak dalam konflik. Mereka menjaga hubungan sebagai pasangan dengan baik, tanpa membebani anak. Hasilnya, anak-anak tumbuh dengan rasa aman, punya kebebasan, tapi tetap tahu batas.
Tanpa disadari, itu membentuk fondasi kepercayaan diri yang kuat. Yang membuat semua ini semakin kuat adalah satu hal, keteladanan. Orang tua Gaby tidak sekadar memberi nasihat, mereka menjalaninya. Cara mereka berbicara, bersikap, hingga memperlakukan orang lain, semuanya adalah pelajaran hidup yang nyata.
Dari sang ibu, Gaby belajar tentang ketangguhan. Bahkan saat didiagnosis kanker, ibunya menghadapi semuanya dengan berani. Ia boleh menangis, tapi tidak larut. Setelah itu, ia kembali tegar untuk keluarganya.
Dari sang ayah, ia belajar tentang kebaikan hati. Memberi tanpa takut kekurangan, membantu tanpa hitung-hitungan. Nilai-nilai inilah yang akhirnya menjadi pegangan hidup Gaby dan adik-adiknya.
Ia bahkan pernah berkata pada dirinya sendiri, “Cari uang sekeras mungkin, enggak apa-apa adik-adik gue yang dapat. Gue enggak perlu egois.” Sebuah prinsip yang lahir bukan dari teori, tapi dari contoh nyata yang ia lihat sejak kecil.
Dan menariknya, hingga hari ini, mereka merasa hidup selalu menemukan jalannya. Selalu ada pertolongan Tuhan di saat sulit. Seolah-olah kebaikan yang dulu ditanamkan orang tua mereka, terus berbuah tanpa henti.
Inilah yang sering kita lupakan sebagai orang tua. Anak tidak hanya belajar dari apa yang kita ajarkan, tapi dari siapa kita setiap hari.
Gaby dan adiknya kini punya satu tujuan sederhana untuk meneruskan legacy itu. Menjadi pribadi yang tetap memberi, dan membangun hubungan penuh cinta seperti yang mereka lihat di rumah dulu.
Jadi, mungkin pertanyaannya bukan lagi “apa yang bisa kita wariskan?”
Tapi, “nilai apa yang sedang kita hidupi hari ini yang suatu saat akan mereka ingat selamanya?”
BACA JUGA:
Tumbuh Dewasa di Rumah yang Penuh Kasih Sayang
Film Tunggu Aku Sukses Nanti, Tonjolkan Pentingnya Dukungan Keluarga
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”