Kisah tragis bocah TK di Lombok Timur yang meninggal dunia karena meniru aksi free style viral di media sosial menyisakan duka mendalam sekaligus pertanyaan besar bagi para orang tua. Bagaimana mungkin tontonan di layar bisa berujung pada hilangnya nyawa seorang anak? Peristiwa ini menjadi alarm keras tentang bahaya konten ekstrem dan pentingnya peran orang tua dalam pengasuhan di era digital.
Pemerintah telah menghimbau para orang tua untuk lebih mengawasi aktivitas anak, terutama saat mengakses media sosial. Namun, pengawasan teknis saja tidak cukup. Kasus ini mengajak kita melihat lebih dalam, bagaimana kondisi emosional orang tua, pola pendampingan, dan kesadaran dalam mengasuh anak sehari-hari.
BACA JUGA: Orang Tua Capek Mental? Ini Dampaknya ke Cara Mengasuh Anak
Anak Meniru karena Belum Mampu Menilai Risiko
Anak usia dini belajar dengan cara meniru. Apa yang terlihat seru, menantang, dan viral mudah dianggap sebagai permainan. Mereka belum mampu membedakan mana yang aman dan mana yang berbahaya. Konten ekstrem di media sosial sering disajikan tanpa konteks risiko, sehingga anak menganggapnya wajar untuk ditiru.
Karena itu, anak bukan pihak yang patut disalahkan. Tanggung jawab utama tetap berada pada orang tua dan lingkungan terdekat untuk memberikan batasan, pendampingan, dan penjelasan sesuai usia.
Tantangan Orang Tua di Era Digital
Mengasuh anak di era digital jauh lebih kompleks. Handphone sering menjadi “penenang instan” ketika orang tua lelah secara fisik dan mental. Tekanan hidup, pekerjaan, dan tanggung jawab keluarga membuat banyak orang tua kehabisan energi untuk hadir sepenuhnya.
Di sinilah pentingnya menyadari bahwa orang tua juga butuh sembuh. Orang tua yang lelah mental lebih rentan lalai atau bereaksi dengan emosi ketika terjadi masalah. Padahal, anak membutuhkan kehadiran orang tua yang tenang dan sadar, bukan hanya larangan atau kemarahan.
Alkitab mengingatkan peran penting ini:
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu.”
(Amsal 22:6)
Mendidik bukan hanya soal aturan, tetapi juga tentang mendampingi dan memberi arah dengan kasih.
BACA JUGA: Inner Child Orang Tua Belum Pulih, Ngaruh Nggak ke Gaya Parenting?
Edukasi Lebih Efektif daripada Sekadar Melarang
Melarang anak mengakses media sosial tanpa penjelasan sering kali tidak efektif. Anak bisa patuh sementara, tetapi rasa ingin tahu tetap ada. Pendekatan yang lebih sehat adalah edukasi. Orang tua perlu menjelaskan bahwa tidak semua yang ada di media sosial aman untuk ditiru dan bahwa banyak aksi dilakukan oleh orang dewasa terlatih.
Ketika anak merasa aman untuk bertanya dan bercerita, orang tua bisa lebih mudah mengarahkan dan melindungi.
Mengasuh dengan Kasih, Bukan Ketakutan
Dalam kelelahan dan kepanikan, orang tua mudah menyalahkan anak. Namun Alkitab juga mengingatkan:
“Hai bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”
(Efesus 6:4)
Cara mendidik sama pentingnya dengan tujuan mendidik. Anak belajar paling baik ketika merasa aman, didengar, dan dikasihi.
BACA JUGA: Bukan Kurang Sabar, Ini Alasan Orang Tua Mudah Meledak ke Anak
Tragedi ini seharusnya tidak hanya menjadi berita viral, tetapi momentum refleksi bagi semua orang tua. Mengasuh anak di era digital menuntut kewaspadaan, kehadiran emosional, dan kesiapan untuk terus belajar, termasuk merawat diri sendiri.
Karena ketika orang tua sehat secara emosional, pengasuhan pun menjadi lebih sadar. Dan di situlah anak mendapatkan perlindungan terbaik, bukan hanya dari bahaya di layar, tetapi juga dalam membangun bekal hidup yang aman dan penuh kasih.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”