Pernahkah Anda merasa tiba-tiba marah atau kecewa berat ketika anak Anda tidak meraih prestasi yang Anda harapkan? Atau mungkin Anda mudah terpicu oleh hal-hal sepele dalam pengasuhan, padahal secara logis Anda tahu itu tidak seberapa?
BACA JUGA: Mengasuh Anak Tanpa Terlalu Mengontrol, Belajar Memberi Ruang untuk Bertumbuh
Bisa jadi, itu bukan salah anak Anda. Itu adalah luka lama masa kecil Anda (inner child) yang belum sembuh, dan tanpa sadar terbawa ke dalam gaya parenting Anda.
Dalam sebuah podcast bersama psikolog klinis Analisa Widya Ningrum, M.Psi., Psikolog, terungkap bagaimana kebutuhan masa kecil yang tidak terfasilitasi dapat menjadi "hantu" dalam pengasuhan. Lalu, bagaimana firman Tuhan memandang hal ini? Mari kita simak.
Bagaimana Inner Child yang Terluka Mengganggu Parenting?
Menurut Analisa, inner child adalah sosok kecil di dalam diri kita yang membawa berbagai kebutuhan dari masa lalu baik positif maupun negatif. Masalah muncul ketika kebutuhan itu tidak dikenali dan tidak disembuhkan, sehingga tanpa sadar kita memproyeksikannya kepada anak.
Berikut adalah tiga dampak utama inner child yang belum pulih terhadap gaya parenting:
1. Kita Membawa Ekspektasi yang Tidak Realistis
Analisa mengakui bahwa dirinya memiliki need of achievement (kebutuhan akan prestasi) yang sangat tinggi. Ini terbentuk sejak kecil karena ia merasa harus menjadi anak perempuan yang "berprestasi". Tanpa sadar, kebutuhan ini terbawa ketika ia menjadi ibu.
"Aku menuntut mereka seperti ibunya yang selalu memberikan best effort," ungkap Analisa.
Akibatnya? Anaknya pun berkata jujur: "Tapi kan aku bukan Mami, Dady." (Artinya: Aku bukan mama, aku berbeda).
Ayat ini melarang orang tua untuk "membangkitkan amarah anak". Menuntut anak dengan standar yang berasal dari luka masa lalu kita bukan dari kebutuhan mereka adalah salah satu cara tercepat membuat anak sakit hati dan marah. Alkitab memerintahkan kita untuk mendidik dengan ajaran Tuhan, bukan dengan tuntutan ego pribadi.
BACA JUGA: Kisah Gaby Bunga Saputra Jadi Yatim Piatu, Ini Warisan Terbesar Orang Tuanya
2. Kita Mudah "Kepicu" oleh Hal Sepele
Ciri utama inner child yang mengganggu parenting adalah ketika kita gampang tersulut emosi oleh hal-hal kecil tanpa sadar alasannya.
Analisa memberi contoh:
"Dulu kecil suka dibanding-bandingkan sama anak tetangga. Begitu anakku nilainya jelek padahal masih bagus, aku langsung kepicu. Padahal itu luka lama yang tersulut."
Proses healing adalah ketika kita berhenti, bertanya pada diri sendiri, "Ini kebutuhan aku atau kebutuhan anak?"
Ini adalah prinsip tabur-tuai. Jika orang tua "menabur" kemarahan, tuntutan, dan reaktivitas emosional yang tidak terkendali (akibat luka lama), maka mereka akan "menuai" anak yang cemas, memberontak, atau tertekan. Sebaliknya, menabur kesadaran dan kesabaran akan menuai hubungan yang sehat.
3. Pola Luka Bisa Menurun ke Generasi Berikutnya
Ini adalah yang paling mengerikan. Tanpa kesadaran, pola pengasuhan yang salah bisa berulang secara turun-temurun (intergenerational trauma).
Analisa menjelaskan dua pola yang muncul:
Yehezkiel 18:20 "Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya, dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertimpa atas dirinya sendiri."
Ini adalah ayat yang sangat menghibur sekaligus memberdayakan. Siklus luka generasi BISA dipatahkan! Anda tidak harus mengulang kesalahan orang tua Anda. Kesadaran akan luka batin (inner child) adalah langkah pertama untuk berkata, "Sampai di sini saya. Siklus ini akan berhenti." Proses healing adalah wujud iman yang mematahkan pola dosa generasi.
Lalu, Bagaimana Cara "Memutus" Pola Ini?
Analisa menekankan: Healing tidak harus berarti Anda pergi ke psikolog (boleh, tapi tidak wajib). Healing adalah ketika Anda menyadari secara utuh apa yang membuat Anda terluka, lalu bertumbuh dari situ. Itu proses, bukan tujuan instan.
Langkah Praktis yang Disarankan Psikolog:
Proses "membuka luka lama" untuk dirawat pasti sakit. Tapi Alkitab memberi jalan keluar yaitu pengampunan. Mengampuni orang tua kita yang mungkin juga telah melukai kita (disadari atau tidak) adalah kunci untuk melepaskan kepahitan yang akan meracuni pola asuh kita sendiri.
Anda boleh terluka, tetapi Anda tidak perlu melukai anak Anda dengan luka yang sama. Hari ini adalah hari pertama dari siklus baru yang lebih sehat.
Ingatlah selalu firman ini: "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6)
Didiklah dengan kesadaran, bukan dengan luka lama.
BACA JUGA:
Film Tunggu Aku Sukses Nanti, Tonjolkan Pentingnya Dukungan Keluarga
Tumbuh Dewasa di Rumah yang Penuh Kasih Sayang
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”