Ibu Anastasia adalah seorang ibu bekerja dengan dua anak laki-laki. Setiap harinya ia menanggung tekanan yang tidak ringan—bekerja hingga dua puluh jam sehari, namun tetap berusaha hadir bagi keluarganya. Di balik semua kesibukan itu, ada pergumulan yang jarang ia ungkapkan: rasa gagal sebagai seorang ibu.
"Saya merasa agak gagal jadi seorang ibu, soalnya gak bisa menemani benar-benar... gak bisa seluruh waktunya dicurahkan untuk mendidik anak-anak."
Pergumulan itu mencapai puncaknya lewat dua kejadian yang mengguncang. Putra bungsunya, Afiel, pernah tantrum parah di sekolah—berbaring telungkup di lantai dan menolak mengikuti ujian kenaikan kelas hingga Ibu Anastasia harus meninggalkan pekerjaannya untuk datang membujuk. Tak lama berselang, kejadian yang lebih mengejutkan datang: putra sulungnya menggigit kepala temannya hingga berdarah.
"Pulang-pulang dari pekerjaan, ditelpon wali kelasnya: 'Anak ibu menggigit temannya di kepala sampai berdarah.' Saya sempat terpukul."
Baca Juga: Merasa Gagal Sebagai Ibu, Lisna Belajar Berubah Dari Akronim HATI di The Parenting Project
Belakangan diketahui sang anak adalah korban perundungan—gigitan itu adalah ledakan yang sudah lama tertahan. Tapi bagi Ibu Anastasia, pertanyaan yang tersisa jauh lebih menyakitkan dari kejadian itu sendiri.
"Saya sempat berpikir apakah anak-anak saya cenderung punya kekerasan hati... mungkin karena dia melihat suami saya yang juga keras terhadap anak-anaknya sendiri."
Suaminya berasal dari NTT, tumbuh dalam budaya mendidik yang keras. Memukul dengan sabuk ketika anak berbuat salah adalah sesuatu yang dianggap wajar. Ibu Anastasia, yang berlatar belakang Jawa Tengah dan berwatak lebih lembut, tersiksa setiap kali menyaksikannya—namun merasa tak berdaya mengubahnya. Ketidakberdayaan itu perlahan menggerus fondasi pernikahan mereka, hingga sebuah pikiran yang berat mulai terlintas—dan bahkan sempat terucap. "Saya sempat ingin bercerai—untuk menyelamatkan anak-anak supaya gak dipukuli," ungkapnya dengan suara menahan tangis.
Dari titik inilah Ibu Anastasia memutuskan bergabung dalam The Parenting Project, dan mengajak suaminya ikut serta—bukan dengan paksaan, tetapi dengan kerinduan untuk memulihkan keluarga. Sejak modul pertama yang berjudul "Menjadi Teladan Baik", keduanya langsung merasakan teguran yang dalam. Konsep bahwa anak adalah cerminan orang tua—bahwa mereka hanya meniru apa yang mereka saksikan setiap hari—menghantam hati mereka berdua.
"Anak-anak itu seperti selembar kertas putih yang melihat kita di panggung—mereka cuma mengikuti aja," kenangnya mengutip pelajaran modul pertama The Parenting Project.
Baca Juga: Satu Video yang Mengubah Ibu Stery Berhenti Ucapkan Kata Kutuk Kepada Anaknya
Proses itu terus berlanjut hingga modul "Tangki Emosi Anak" dimana anak membutuhkan kasih yang aktif dituangkan, bukan sekadar kehadiran fisik. Di sini Ibu Anastasia menyadari bahwa kesibukannya selama ini telah membuat tangki kasih anak-anaknya kering. Sang suami pun mengalami kesadaran yang sama.
"Dari modul ke-8 itu dia udah mulai sadar bahwa dengan memukul itu gak bisa menyelesaikan masalah."
Ibu Anastasia juga mulai memahami akar dari pola asuh keras suaminya—bahwa itu bukan niat jahat, melainkan warisan dari cara ia sendiri dibesarkan. Pemahaman itu mengubah penghakiman menjadi empati, dan dari situ perubahan mulai terjadi. Salah satunya perubahan sikap dan tindakan suami kepada anak-anak.
"Dulu kalau ada Bapak—langsung marah, langsung mukul, langsung hukum. Sekarang, saya hampir gak pernah lihat Bapak mukul anak-anak lagi,” ungkapnya.
Ibu Anastasia sendiri mulai meluangkan waktu bermain bersama anak-anak di rumah, dan komunikasi dalam keluarga menjadi jauh lebih hangat. Anak-anak pun merespons dengan cara yang paling sederhana namun paling berarti. "Mereka lebih terbuka sekarang, mau cerita. Kalau dulu, saking sibuknya, kadang gak sempat ngobrol sama anak-anak," tegasnya.
Sesuatu yang rohani pun tumbuh—sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada dalam keluarga mereka. Sekarang hampir tiap malam keluarga ini berdoa bersama. “Yang tadinya kita doa masing-masing—sekarang tiap hari, kalau pas gak di luar kota, kita pasti saat teduh bersama."
Dan yang paling ajaib bagi Ibu Anastasia, keluarga yang pernah berada di ambang perceraian kini berdiri jauh lebih kokoh. "Saya sempat ingin bercerai—untuk menyelamatkan anak-anak. Tapi puji Tuhan, karena dengan adanya The Parenting Project ini, kami gak jadi bercerai. Keluarga kami dipulihkan," pungkasnya.
Kepada para orang tua yang sedang berjuang dalam peran yang sama, Ibu Anastasia memberikan pesan khusus melalui pengalaman dan pemulihan yang ia sudah alami sendiri. Katanya, “Jangan berhenti belajar. Jadilah orang tua yang terus bertumbuh dan tidak takut untuk berubah. Karena anak-anak kita berhak mendapat yang terbaik dari kita—dan dengan Tuhan, perubahan itu selalu mungkin.”
Apa yang dialami ibu Anastasia juga terjadi kepada ratusan papa mama yang sudah mengikuti The Parenting Project di gereja mereka.
Jika hari ini Anda membaca kisah ini, ini adalah undangan bagi Anda untuk ambil bagian bersama The Parenting Project - melatih orangtua dan memulihkan keluarga di Indonesia.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”