Satu Video yang Mengubah Ibu Stery Berhenti Ucapkan Kata Kutuk Kepada Anaknya

Impact Story / 23 April 2026

Kalangan Sendiri
Satu Video yang Mengubah Ibu Stery Berhenti Ucapkan Kata Kutuk Kepada Anaknya
Sumber: Jawaban.com
Lori Official Writer
675

Stery Mandagi adalah seorang ibu dari tiga anak yang tinggal di Desa Rinondor, Kecamatan Kakas, Minahasa. Sehari-hari ia dan suaminya menggantungkan hidup dari bertani — suaminya bekerja sebagai buruh tani, dan Stery pun kerap ikut turun ke ladang untuk membantu. Di tengah kesibukan itu, pengasuhan anak seringkali berjalan apa adanya, mengikuti pola pengasuhan yang mereka dapatkan dari orangtua mereka dulu. 

Di keluarga mereka, ada satu kata yang terlalu sering keluar setiap kali anak-anak berbuat salah: “bodok” — bahasa harian masyarakat yang berarti “bodoh”. Bagi Stery, kata itu terasa wajar, bahkan refleks. Begitulah cara orangtua mendisiplinkan anak. Bukan sesuatu yang disengaja untuk menyakiti — melainkan kebiasaan yang sudah tertanam lama.

Mikael, anak bungsu mereka yang kini berusia 10 tahun dan duduk di kelas 4 SD, paling sering menjadi sasaran kata itu. Ia anak yang aktif, tapi tidak mau belajar. Tidak mau disuruh. Tidak mau dengar. Dan setiap kali itu terjadi, kalimat yang sama pun meluncur. “Kamu ini bodok, Michael! Mau jadi anak bodok kalau tidak mau belajar?”

 

Baca Juga: Merasa Gagal Sebagai Ibu, Lisna Belajar Berubah Dari Akronim HATI di The Parenting Project

 

Yang membuat hati Stery semakin berat adalah laporan dari sekolah. Mikael, yang sudah duduk di kelas 4, belum bisa membaca dengan lancar. Ia dipanggil berulang kali oleh guru kelas, wali kelas, bahkan kepala sekolah. Mikael bisa menulis, tapi membaca — itu yang masih menjadi tembok besar.

Suami Stery pun tidak berbeda. Ketika marah, kata “bodok” juga keluar dari mulutnya. Mereka berdua tidak menyadari bahwa kata yang terasa ringan di mulut itu bisa meninggalkan beban yang sangat berat di hati seorang anak. Mikael sering menangis saat dimarahi — bukan karena nakal, tetapi karena ia tidak tahu bagaimana menghadapi amarah yang datang berulang tanpa pernah ada yang menjelaskan dengan lembut apa yang seharusnya ia lakukan.

“Kami sangat menyesal dengan setiap sikap kami yang kasar di depan anak-anak kami,” ungkapnya dengan sedih.

 

Baca Juga: Ketika Anak Menyaksikan Kekerasan, Tuhan Memulihkan Keluarga Kami

 

Satu Video yang Mengubah Segalanya

Suatu hari, Stery mendengar ada kegiatan parenting yang diadakan di GSJA Solideo Rinondor — gereja tempat keluarganya berjemaat. Ia tertarik dan memutuskan untuk hadir. Suaminya tidak bisa ikut karena sedang bekerja, sehingga Stery datang seorang diri.

Ini adalah pertama kalinya ia mengikuti The Parenting Project. Pada sesi itu, modul yang dibahas adalah ‘Menjadi Teladan yang Baik’. Hanya satu video yang sempat diputar — singkat, tidak panjang. Tetapi isinya membelah hatinya.

Video itu menampilkan sebuah keluarga: sepasang suami istri yang bertengkar, disaksikan oleh anak-anak mereka. Lalu pada akhirnya, mereka berdamai — saling minta maaf — dan anak-anak pun menyaksikan itu juga. Fasilitator kemudian mengajak peserta untuk merenungkan: bagaimana dengan keluarga mereka sendiri?

Stery berdiri. Dengan jujur ia bercerita bahwa di rumahnya pun demikian — ketika ia dan suami bertengkar, anak-anak ada di sana, menyaksikan. Dan ketika mereka berdamai, anak-anak juga menyaksikan. Namun yang menghantuinya bukan pertengkaran itu — melainkan sadar bahwa selama bertahun-tahun, kata “bodok” yang ia lontarkan kepada Mikael bukan sekadar kata marah. Firman Tuhan yang sering ia dengar tiba-tiba terasa sangat nyata. “Setiap perkataan itu memiliki kuasa — dan itu merupakan salah satu bentuk doa,” ucap Sterly.

 

Baca Juga: Bukan Memarahi Tetapi Mengisi Tangki Emosi Anak, Pelajaran Parenting yang Mengubah Septi

 

Stery menangis. Bukan karena dihakimi — tetapi karena akhirnya ia melihat dengan jelas bahwa ucapannya bukan hanya memarahi Mikael. Ia sedang mengucapkan kutuk atas anaknya sendiri. Dan sekarang, di hadapan keadaan Mikael yang belum lancar membaca, ia tidak bisa lagi berpura-pura. 

Ia mengungkapkan dengan penuh kesadaran, “Ternyata kalimat ‘bodok’ benar-benar menjadi kutuk bagi anak saya. Saya meneteskan air mata menyesali semua perbuatan saya selama ini.”

 

Memilih Memberkati, Bukan Mengutuki

Sesampainya di rumah, hal pertama yang Stery lakukan adalah menceritakan semuanya kepada suaminya. Ia tidak menyimpan sendiri apa yang ia pelajari dan rasakan. Bersama-sama, mereka mengakui bahwa selama ini mereka telah salah — bukan karena jahat, tetapi karena tidak tahu. Dan sekarang mereka tahu, tidak ada alasan untuk tidak berubah.

Mereka berkomitmen untuk berhenti mengumbar kata-kata kasar kepada anak-anak, khususnya kepada Mikael, dan menggantinya dengan kata-kata yang membangun. Suami Stery yang tadinya tidak hadir pun memahami dan sepakat untuk ikut berubah. Mereka saling berjanji untuk saling mengingatkan jika kebiasaan lama mulai muncul kembali. Dan perubahan itu mulai terasa: Mikael yang tadinya sering memberontak kini lebih mau mendengar, lebih dekat dengan ibunya, lebih sering mencari Stery untuk bercerita.

“Harusnya kami menjadi orangtua yang terus memberkati anak-anak kami, bukan mengutukinya,” ucapan sekaligus sebuah komitmen yang ingin ia lakukan.

Stery masih terus berdoa untuk Mikael — agar kemampuan membacanya berkembang sebelum kenaikan kelas tiba. Ia belum tahu bagaimana Tuhan akan menjawab. Tetapi ia kini berdiri di tempat yang berbeda: bukan sebagai ibu yang marah dan putus asa, melainkan sebagai ibu yang belajar memberkati anaknya setiap hari, percaya bahwa perkataan yang baik memiliki kuasa yang jauh lebih besar dari kata-kata kutuk yang pernah ia ucapkan.

Apa yang dialami ibu Stery juga terjadi kepada ratusan papa mama yang sudah mengikuti The Parenting Project di gereja mereka. 

Jika hari ini Anda membaca kisah ini, ini adalah undangan bagi Anda untuk ambil bagian bersama The Parenting Project - melatih orangtua dan memulihkan keluarga di Indonesia.

 

MARI BERGABUNG SEKARANG

 

Kalangan Sendiri
Halaman :
1

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?