Sang Pengampun Dosa
Kalangan Sendiri

Sang Pengampun Dosa

Claudia Jessica Official Writer
      84

Mikha 7: 18-19

"Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut."

 

Kadang yang paling sulit bukan percaya apakah Tuhan bisa mengampuni kita atau tidak, tetapi percaya bahwa dosa kita benar-benar sudah dihapus.

Kita tahu firman Tuhan, kita sudah berdoa minta ampun, tapi entah kenapa rasa bersalah itu masih tinggal dalam hati dan menggerogoti kita. Seolah-olah dosa itu masih menempel dan terus mengingatkan kita akan masa lalu.

Namun, melalui firman Tuhan dalam Mikha 7:18-19, kita bisa melihat gambaran yang begitu indah tentang siapa Allah kita. Nabi Mikha memulai dengan pertanyaan, “Siapakah Allah seperti Engkau?” Seolah-olah ia sedang berkata bahwa tidak ada Allah lain yang seperti Dia—Allah yang Maha Pengampun, menunjukkan kasih setia-Nya.

Menariknya, Tuhan bukan sekadar “menghapus” dosa kita dengan cara biasa. Mikha memberi dua gambaran yang sangat kuat. Pertama, Tuhan menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan menghancurkannya sampai tidak berbentuk lagi. Kedua, Tuhan melemparkan dosa kita ke dalam tubir-tubir laut—ke tempat terdalam yang tidak bisa dijangkau atau diambil kembali.

Artinya pengampunan Tuhan itu total, tidak setengah-setengah dan tidak disimpan untuk diingat lagi nanti. Tapi kenapa Tuhan melakukan itu?

Roma 5:8 menjawab, “Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna dulu. Justru saat kita masih penuh dosa, kasih-Nya sudah lebih dulu datang dan membuka jalan pengampunan melalui salib.

Tapi sering kali, kita justru masih hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Tuhan sudah menghapus dosa kita, tetapi kita masih menyimpannya dalam pikiran kita. Tuhan sudah membuangnya jauh, tetapi kita masih berusaha “mengambilnya kembali” lewat rasa bersalah dan rasa malu.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita, ketika Tuhan sudah mengampuni, kita juga perlu belajar menerima pengampunan itu. Kita tidak lagi hidup di bawah tuduhan dosa, tetapi di bawah kasih karunia.

Kita adalah orang yang sudah diampuni, dipulihkan, dan dikasihi.

Momen Refleksi:

Apakah ada rasa bersalah yang masih kamu simpan, padahal Tuhan sudah mengampuninya?

Action:

Hiduplah sebagai pribadi yang sudah dibebaskan, bukan seseorang yang masih terikat oleh masa lalu. Hiduplah oleh kasih karunia Tuhan.

Ikuti Kami