Tidak banyak orang berani mengambil keputusan yang berisiko mengubah seluruh hidupnya. Namun itulah yang dialami oleh Fajar Nugraha Pratama, seorang anak muda yang pernah menjalani kehidupan sebagai santri selama tiga tahun sebelum akhirnya mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus.
Fajar lahir di Demak dan dibesarkan dalam keluarga yang belum percaya, sebuah kota yang dikenal kuat dengan sejarah keagamaannya. Masa remajanya tidak selalu berjalan mulus. Saat duduk di bangku SMP, ia mengakui dirinya sempat menjadi anak yang cukup membandel.
“Waktu itu saya sering nongkrong, main terus, dan sulit diatur,” kenangnya.
BACA JUGA: Kisah Mantan Ateis yang Membawa Kebangunan Rohani di Tengah Generasi Z
Karena merasa kewalahan, orang tuanya akhirnya mengambil keputusan besar. Fajar dikirim jauh ke sekolah keagamaan di Kalimantan Barat. Tujuannya sederhana, agar ia berubah dan belajar disiplin.
Di sekolah itulah hidup Fajar berubah. Ia menjalani rutinitas ketat mulai dari bangun dini hari untuk ibadah, membaca dan belajar kitab, hingga menjalani kehidupan yang penuh aturan.
Selama tiga tahun, ia belajar membaca kitab suci agamanya dengan baik, bahkan sempat mengikuti lomba melantunkan ayat suci dengan nada yang indah.
Bagi Fajar saat itu, keyakinannya sudah sangat jelas. Ia memandang kekristenan dari sudut pandang yang ia pelajari sejak kecil.
“Saya dulu berpikir orang Kristen itu kafir. Saya bertanya-tanya, kok orang Kristen punya Allah? Allah kok punya anak? Kok ada Roh Kudus? Itu yang dulu ada di pikiran saya.”
BACA JUGA: Terharu! Orang Tua Muslim NTT Ini Dampingi Anak Terima Komuni Pertama
Namun semuanya mulai berubah ketika Fajar merantau untuk bekerja di Manado, Sulawesi Utara. Di kota yang mayoritas penduduknya Kristen itu, ia memperhatikan sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
“Kenapa orang-orang yang pulang dari gereja wajahnya ceria, penuh sukacita, dan damai?” katanya.
Rasa penasaran itu akhirnya mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia memutuskan untuk ikut menghadiri ibadah di gereja.
Apa yang terjadi di sana benar-benar mengejutkannya.
Di tengah ibadah penyembahan, Fajar tiba-tiba menangis keras. Ia merasa diingatkan akan masa lalunya, dosa-dosanya, dan hidup yang selama ini ia jalani. Momen itulah yang ia sebut sebagai titik awal perjumpaan pribadinya dengan Tuhan.
Sejak hari itu, perjalanan hidup Fajar berubah drastis. Ia mulai mencari tahu lebih dalam tentang iman Kristen, membaca Alkitab, dan bergumul dengan keputusan besar yang akan menentukan masa depannya.
BACA JUGA: “Saya Percaya Yesus Meskipun Awalnya Masih Harus Sembunyi-sembunyi” – Sulthan Afriyansyah
Keputusan yang akhirnya ia ambil bukan hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga berdampak pada keluarganya.
Bagaimana perjalanan seorang mantan santri sampai akhirnya memilih mengikuti Kristus? Bagaimana ia mengubah kehidupan keluarganya?
Kisah lengkap Fajar Nugraha Pratama bisa Anda dengarkan dalam podcast Superyouth, di mana ia menceritakan seluruh perjalanan imannya.
Sumber : YouTube Superyouth