Tidak semua perjalanan iman dimulai dari kenyamanan. Ada kisah iman yang lahir dari ketakutan, air mata, dan pergumulan panjang. Itulah perjalanan hidup Muhammad Sultan Afriyansyah, seorang anak yang tumbuh di antara dua iman hingga akhirnya berani memilih jalan yang diyakininya sebagai kebenaran.
Sultan lahir dari keluarga dengan latar belakang agama yang berbeda. Ayahnya adalah seorang yang belum percaya kepada Tuhan, sementara ibunya adalah pengikut Tuhan yang sempat berpindah agama demi pernikahan.
Di usia enam tahun, Sultan sempat diajak ibunya ke gereja. Ia belum memahami ajaran atau teologi, tapi satu hal tertanam kuat di hatinya. Ia merasakan bahwa Allah yang disembah orang Kristen adalah Allah yang hidup. Pengalaman itu terhenti ketika sang ayah melarang keras.
Tahun-tahun berikutnya, Sultan tumbuh sebagai seorang penganut agama lamanya yang taat. Ia hafal hampir semua kitab suci kepercayaannya saat itu, bahkan mengikuti lomba-lomba keagamaan.
Namun, benih iman yang pernah ia rasakan tidak pernah mati. Saat SMP, kakak-kakaknya kembali mengajaknya ke gereja. Di sanalah Sultan mulai membaca Alkitab secara diam-diam, dini hari sebelum ayahnya bangun untuk beribadah menurut imannya.
Sultan memiliki kerinduan yang begitu besar dalam membaca Firman Tuhan karena ia merasakan Firman itu terasa hidup.
Menariknya, Sultan tidak langsung berpindah agama. Ia tetap menjalani ritual iman lamanya demi menghormati ayahnya dan menjaga keamanan dalam keluarga.
Namun, hatinya sudah mantap. Ia percaya Yesus. Tanpa debat teologi atau argumentasi panjang, imannya bertumbuh melalui pengalaman pribadi. Ia merasa doa-doanya didengar, penyembahan yang ia naikkan membawa damai dalam hatinya.
Bagi Sultan, semua itu adalah hubungan yang dibangun untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan sekedar ritual semata.
Namun, Ujian terbesar datang ketika Sultan terjerumus dalam dunia trading instan. Keserakahan dan ketidaktahuan membuatnya kehilangan puluhan juta rupiah hingga terlilit hutang besar.
Ia kehilangan pekerjaan dan masa depan terasa gelap. Namun di titik terendah itu, Sultan kembali datang kepada Tuhan. Bukan untuk menuntut pertolongan, tetapi untuk berserah sepenuhnya.
Mukjizat memang terjadi. Hutangnya terlunasi melalui penjualan rumah keluarga. Tapi yang jauh lebih penting, imannya kembali diteguhkan. Sultan kembali aktif di gereja, melayani, dan bertumbuh.
Hingga suatu hari, Alkitabnya ketahuan oleh sang ayah. Penolakan dan kemarahan pun tak terhindarkan. Hubungan mereka berubah, dan jalan iman yang ia pilih harus dibayar dengan kehilangan kenyamanan.
Meski demikian, Sultan memilih bertahan. Ia percaya mengikut Kristus bukan tentang hidup tanpa penderitaan, melainkan kesetiaan dalam setiap keadaan. Baginya, iman bukan soal mukjizat semata, tetapi tentang hubungan dengan Allah yang hidup.
Cerita ini hanyalah sebagian kecil dari perjalanan iman Sultan. Untuk mendengarkan kisah lengkapnya secara langsung, tonton episode podcast Muhammad Sultan Afriyansyah hanya di YouTube Superyouth ID berikut ini:
Sumber : YouTube Superyouth