Musa mungkin adalah salah satu tokoh paling terkenal di Alkitab, namun kisahnya bukan tentang seseorang yang sempurna sejak awal.
Ia adalah anak buangan yang dibesarkan di istana Mesir, pelarian yang sempat ragu akan panggilannya, dan seorang pemimpin yang mengalami jatuh bangun dalam memimpin umat Israel.
Namun justru dari kehidupan Musa, kita belajar banyak hal penting tentang panggilan, iman, dan kepemimpinan.
Apa saja 4 tipe kepemimpinan Musa yang bisa kita jadikan teladan?
1. Musa Melayani Tuhan Sekalipun Ia Merasa Belum Siap
Ketika Tuhan memanggil Musa dari semak yang menyala, reaksinya bukan "Siap, Tuhan!" tapi justru penuh alasan dan berkata, “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” (Keluaran 3:11).
Musa merasa tidak layak, tidak pandai bicara, bahkan meminta Tuhan memilih orang lain. Namun Tuhan tidak melihat kesiapan manusia, melainkan hati. Pada akhirnya, meski dengan gemetar, Musa memilih taat kepada Tuhan.
Pelajaran bagi kita: Terkadang, kita menunda melayani karena merasa belum cukup pintar, belum cukup rohani, atau belum berpengalaman. Tapi Tuhan seringkali memakai orang yang belum siap, untuk menunjukkan bahwa kekuatan itu berasal dari-Nya.
2. Musa Percaya kepada Tuhan
Iman Musa tidak dibangun dalam semalam, tapi ia belajar mempercayai Tuhan langkah demi langkah.
Ia harus menghadapi Firaun yang keras kepala, memimpin bangsa yang sering bersungut-sungut, dan berjalan di padang gurun tanpa peta.
Tapi di tengah semua itu, ia tetap mempercayai janji Tuhan. Ibrani 11:27 mencatat, “Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.”
Pelajaran bagi kita: Di saat jalan hidup tampak tidak jelas, biarkan iman menuntun kita untuk tetap berjalan. Musa menunjukkan bahwa percaya kepada Tuhan bukan berarti segalanya mudah, tapi berarti kita tidak berjalan sendiri.
3. Musa Belajar dari Tuhan, Lalu Mengajar Orang Lain
Musa bukan hanya seorang pemimpin, tapi juga seorang pengajar. Ia menerima Hukum Tuhan di Gunung Sinai, mendengarkan suara Tuhan langsung, dan kemudian membagikan hukum dan perintah itu kepada umat Israel.
Ia menjadi jembatan antara firman Tuhan dan kehidupan umat-Nya.
Pelajaran bagi kita: Seorang yang dekat dengan Tuhan akan memiliki sesuatu untuk dibagikan. Kita pun dipanggil untuk terus belajar, bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, dan membagikan kebenaran itu kepada keluarga, komunitas, dan generasi berikutnya.
4. Musa Belajar Mendelegasikan
Awalnya, Musa mencoba memikul semua beban pelayanan sendiri. Tapi nasihat dari mertuanya, Yitro, mengubah cara pandangnya.
“Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.” (Keluaran 18:18)
Kemudian Musa menunjuk pemimpin-pemimpin lain untuk membantunya, dan mulai mempercayakan tanggung jawab kepada orang lain.
Pelajaran bagi kita: Dalam pelayanan atau pekerjaan, kita tidak dipanggil untuk menjadi "superman rohani." Mendelegasikan bukan tanda kelemahan, tapi tanda kedewasaan dalam kepemimpinan. Musa menunjukkan bahwa pemimpin yang bijak tahu kapan harus berbagi beban.
Musa bukan pemimpin yang sempurna. Tapi dari ketidaksempurnaannya, justru kita melihat anugerah Tuhan yang besar.
Saat ini, Tuhan juga bisa memakai hidup Anda dengan segala kelemahan dan keterbatasan untuk melakukan perkara besar bagi kemuliaan-Nya.
Kalau Anda merasa belum siap, ingatlah bahwa Musa pun pernah merasa demikian. Tapi ketika ia taat, Tuhan menyertai setiap langkahnya.
Sumber : Jawaban.com