Perjanjian Pranikah dan Pascanikah, Apakah Penting Dilakukan Oleh Pasangan Kristen?

Marriage / 29 March 2022

Perjanjian Pranikah dan Pascanikah, Apakah Penting Dilakukan Oleh Pasangan Kristen?

Contasia Christie Official Writer
540

Beberapa hari lalu Maia Estianty mengunggah postingan yang bertanya pendapat netizen tentang perjanjian pascanikah. Sebelumnya juga pernah ada sejumlah artis yang melakukan perjanjian pranikah. Dan kabar ini begitu viral sehingga banyak orang yang mulai terbuka bahwa ada perjanjian-perjanjian semacam ini dalam pernikahan.

Memang ada pro dan kontra tentang perjanjian pra dan pascanikah ini. Banyak yang bingung karena pernikahan itu sendiri adalah sebuah janji, kenapa beberapa orang melakukan ada janji lagi di atas janji yang sudah disahkan. Sejatinya memang perjanjian pascanikah memiliki landasan hukum dan dibuat dalam bentuk akta notaris selama masih dalam ikatan pernikahan.

Hal tersebut telah diatur dalam UU Perkawinan: Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan). Disebutkan bahwa pembagian harta dalam perkawinan dibagi menjadi tiga macam, yakni Harta Bawaan, Harta Masing-Masing Suami Atau Istri yang Diperoleh Melalui Warisan Atau Hadiah Dalam Perkawinan, dan Harta Bersama Atau Gono-gini, yaitu harta yang diperoleh selama perkawinan.

 Baca juga : 5 Cara Suami untuk Memimpin Pernikahan Secara Spiritual Agar Sesuai Firman Tuhan

 

Perbedaan perjanjian pranikah dan pascanikah

Perbedaan yang pasti terlihat adalah waktu dibuatnya perjanjian itu. Pra berarti sebelum menikah dan pasca adalah saat masih dalam ikatan pernikahan. Untuk pasca menikah, perjanjiannya meliputi pemisahahan harta dari pertama kali menikah sampai perceraian atau kematian, dan tanggung jawab atas hutang yang dibuat semasa perkawinan.

 

Pandangan Kristen tentang perjanjian pranikah dan pasca menikah?

Memang hal ini tidak nyaman untuk membahasnya bersama pasangan, tapi semuanya kembali lagi kepada motif dilakukannya perjajian ini. Yuk kita kembali lagi pada desain Tuhan terhadap pernikahan manusia. Pernikahan Kristen dimaksudkan oleh Tuhan untuk menjadi hubungan seumur hidup yang berkembang antara seorang pria dan seorang wanita yang bertahan melalui pencobaan, penyakit, krisis keuangan, dan tekanan emosional.

Intinya: Pernikahan harus merangkul setiap bagian kehidupan — mental, emosional, moral, spiritual, ekonomi, fisik, dan seksual. Dengan mengingat hal ini, jelas bahwa perjanjian yang disebutkan tidak didasarkan pada mentalitas pernikahan yang bahagia dan sehat.

BACA SELANJUTNYA ------------->

Sumber : dari berbagai sumber
Halaman :
12Tampilkan Semua

Ikuti Kami