Ember Bocor
Kalangan Sendiri

Ember Bocor

Budhi Marpaung Official Writer
      8642
II Korintus 12:10
"Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 87; Lukas 8; Yeremia 13, 22

Ada seorang pemikul air di India yang memiliki dua buah ember. Masing-masing ember tergantung di ujung pikulan yang ia sangga dengan bahunya. Salah satu ember bocor, sedang ember yang satunya lagi sempurna. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari sumber air ke rumah tuannya, ternyata air ember yang bocor tinggal setengahnya, sedang di ember yang satu lagi tetap penuh.

Ember yang bocor yang merasa malu dengan ketidaksempurnaannya karena ia hanya mampu membawa setengah dari yang diharapkan. Ember yang sempurna merasa bangga dengan prestasinya karena seluruh kewajibannya dapat diselesaikan.

Setelah dua tahun, ember yang bocor itu tidak tahan lagi dan ia pun berkata kepada tuannya, "Aku merasa malu sekali dan ingin meminta maaf atas ketidakmampuanku." "Mengapa engkau harus malu?" Tanya pemikul air itu. "Karena selama dua tahun ini, aku tidak mampu melakukan tugas dengan sempurna, aku hanya bisa menyelesaikan setengah dari kewajibanku, padahal engkau telah bersusah payah membawaku. Lubang pada tubuhku ini menyebabkan air bocor sepanjang jalan" jawab sang ember.

Si pemikul air berkata, "Apakah kamu memperhatikan bahwa di sepanjang jalan, pada sisi kamu berada penuh dengan bunga yang indah, sedang di sisi lain tidak?" "Memang benar, aku telah memperhatikannya," kata sang ember. Kemudian si pemikul air itu melanjutkan, "Itu terjadi karena aku tahu kekuranganmu dan aku memanfaatkan kelemahanmu. Aku telah menabur bunga di sepanjang sisimu, dan kamu telah menyiramnya setiap hari. Dan hasilnya selama dua tahun ini aku setiap hari dapat menghias meja tuanku dengan bunga-bunga yang indah, yang kamu sirami setiap hari".

Memang kita semua memiliki kekurangan, namun bila kita mau, Tuhan dapat menggunakan kekurangan itu untuk menghias meja Bapa di surga dan memuliakan-Nya. Jangan kuatir dengan kekurangan Anda, pada kelemahan dapat Anda temukan kekuatan.

Terkadang apa yang menjadi kekurangan Anda justru bisa menjadi kelebihan Anda

Ikuti Kami