Menjadi Buruh Cuci Demi Bertahan Hidup

Suryani (8 tahun), gadis kecil ini tinggal bersama ibunya di sebuah kamar kosan kecil yang pengap dan gelap. Ibunya adalah seorang single parents yang berjuang memenuhi kebutuhan mereka berdua dengan berjualan minuman keliling di komplek makam Kristen Kembang Kuning, Surabaya.

Namun sejak pandemi Covid-19 ini, pengunjung yang datang ke makam semakin sepi, sehingga memaksanya untuk banting setir menjadi buruh cuci. Penghasilan yang ia dapatkan sebagai buruh cuci pun tidak menentu, hanya sekitar 20.000-25.000 rupiah sehari.

Perjuangan berat ibu dan anak ini untuk bertahan hidup sungguh mengharukan, terlebih melihat sosok Suryani yang dalam kepolosannya sebagai anak-anak. Untuk membantu meringankan beban keluarga Suryani ini, fasilitator CBN  memberikan paket sembako yang mereka sambut dengan rasa terima kasih.

Kisah Lainnya

Kisah Keluarga Anak Penjual Batu Kerikil

Setelah kepergian suaminya 3 tahun silam, Mensiana Sene (45 tahun) harus berujuang menghidupi 3 oran

Bertahan Hidup dengan Ubi Beracun

Tidak banyak pilihan yang bisa diambil Umbu Tay Maramba Hamu (62 tahun), seorang lansia yang bekerja

Mencoba Tidak Menyerah Pada Keadaan

Setelah merantau dari Jawa Timur ke Pangkalan Bun, Salamun tidak kunjung mendapatkan pekerjaan

Nasi, Garam, dan Kecap Jadi Menu Sehari-hari Apriyati

Apriyati, seorang janda beranak satu, benar-benar harus menyerah dimasa pandemi Covid-19 ini.

Harapan Tidak Sesuai dengan Kenyataan

Demi meningkatkan taraf hidup, Noperianus memboyong istrinya, Ai Erna

Perjuangan Memenuhi Kebutuhan Hidup Keluarga Seorang Diri

Pekerjaan apapun dilakukan asal anaknya bisa makan. Itulah yang dilakukan seorang ibu muda

Dalam Usia Senja, Paulina Bertahan dengan Makan Jagung

Oma Paulina merupakan seorang lansia berusia 81 tahun yang tinggal di Desa Baun, Amarasi, Kupang.

Makan Tiwul Demi Mencukupi Kebutuhan Makan Keluarga

Sebagai kuli di ladang milik orang lain, pendapatan Barno tidaklah besar.