Berhenti Melihat ke Belakang

Renungan Harian / 19 August 2026

Berhenti Melihat ke Belakang
Lori Official Writer
      151

Filipi 3: 13-14

"Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang di belakang dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapan, dan aku berlari-lari kepada tujuan..."

 

 

Bayangkan Anda sedang berlari dalam sebuah perlombaan — dan di tengah jalan, Anda terus menoleh ke belakang. Melihat pesaing yang ada di belakang Anda, atau bahkan hanya sekadar mengingat di mana Anda terjatuh tadi. Apa yang terjadi? Langkah Anda melambat, fokus Anda pecah, dan yang harusnya menjadi perlombaan ke depan berubah menjadi pergumulan dengan masa lalu. Itulah gambaran paling jujur dari banyak hidup kita hari ini.

Paulus paham betul soal ini.

Yang membuat ayat ini begitu kuat adalah siapa yang mengatakannya. Paulus bukan orang yang tidak punya masa lalu yang berat. Sebelum bertemu Yesus, ia adalah orang yang secara aktif menganiaya dan membunuh orang-orang Kristen (Kisah Para Rasul 8:3). Kalau ada orang yang punya alasan untuk terus dihantui masa lalunya, itu adalah Paulus. Tetapi dalam Filipi 3:13, ia membuat sebuah keputusan yang sangat disengaja: "aku melupakan apa yang di belakang."

Kata "melupakan" di sini bukan berarti amnesia — bukan berarti Paulus tidak ingat apa yang sudah terjadi. Dalam bahasa Yunani, kata yang dipakai adalah epilanthanomai yang berarti secara aktif memilih untuk tidak membiarkan masa lalu itu mengendalikan langkah ke depan. Ini bukan soal menghapus kenangan, tetapi soal menolak memberikan kekuasaan kepada kenangan itu untuk menentukan arah hidup kita.

Dan inilah yang sering kita perjuangkan setiap hari. Kita membawa beban kegagalan yang sudah lama — hubungan yang hancur, keputusan yang salah, dosa yang sudah diampuni tetapi kita masih menyimpan kecewa kepada diri sendiri. Kita tahu Tuhan sudah mengampuni, tetapi kita masih menghukum diri sendiri. Kita tahu masa lalu sudah selesai, tetapi kita tidak bisa berhenti melihat ke sana.

Yesaya 43:18-19 berbicara langsung ke titik ini: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang sudah lama. Sesungguhnya, Aku hendak membuat sesuatu yang baru." Tuhan tidak meminta kita berpura-pura masa lalu tidak ada — Ia mengundang kita untuk tidak membiarkan masa lalu menghalangi kita melihat apa yang sedang Ia kerjakan ke depan.

Saudara, seperti kita tahu Paulus berlari ke depan bukan karena masa lalunya sudah sempurna — tetapi karena ia tahu ada tujuan yang jauh lebih besar yang sedang menunggunya di depan. Dan undangan yang sama itu juga berlaku untuk kita hari ini.

 

Refleksi Pribadi:

1. Apa yang selama ini Anda bawa dari masa lalu yang membuat langkah Anda ke depan terasa berat?

2. Hari ini, buat satu keputusan yang sederhana tapi konkret: pilih untuk tidak membiarkan satu hal dari masa lalu itu mengendalikan cara Anda menjalani hari ini. Bukan karena melupakannya mudah — tetapi karena Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang baru di depan, dan sayang sekali kalau kita melewatkannya hanya karena terus melihat ke belakang.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?