Di tengah derasnya arus teknologi, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI), gereja di Indonesia sedang menghadapi satu pertanyaan besar: "Apakah gereja masih menjadi rumah bagi generasi muda, atau justru perlahan mulai kehilangan mereka?"
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika Ketua Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Pdt. Tommy Lengkong M.Th, menyoroti adanya jarak yang semakin lebar antara generasi sebelumnya dengan generasi muda saat ini. Menurutnya, perkembangan teknologi membuat cara berpikir, cara berkomunikasi, dan cara anak muda menyerap informasi berubah sangat cepat.
“Generasi sekarang itu berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Dalam perkembangan yang terakhir-terakhir ini, percepatan gap itu makin besar antara generasi yang sebelumnya dengan sekarang. Itu sebabnya komunikasi antara generasi sebelumnya dengan sekarang itu berbeda,” ungkap Tommy dalam wawancara bersama CBN Indonesia.
Baca Juga: Ramai Isu Komsel dan ‘War Seat’, Umat Kristen Ayo Kembali Fokus
Ia menilai bahwa salah satu tantangan terbesar gereja saat ini adalah memahami perubahan pola pikir generasi muda yang dibentuk oleh dunia digital. Jika dahulu informasi diperoleh secara terbatas dan bertahap, kini anak-anak muda dapat mengakses berbagai pengetahuan, tren, dan pandangan hidup hanya dalam hitungan detik melalui internet dan media sosial.
“Lompatan berpikir generasi sekarang dengan generasi yang lalu itu jauh sekali. Karena dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, anak-anak muda sekarang sangat cepat mempunyai informasi,” jelasnya.
Perubahan ini tidak bisa dianggap sepele. Anak muda masa kini tumbuh dalam dunia yang serba cepat. Mereka terbiasa menerima informasi dalam hitungan detik, berinteraksi melalui media digital, dan membentuk pandangan hidup dari berbagai konten yang mereka konsumsi setiap hari. Sementara itu, banyak gereja masih bergerak dengan pola pelayanan yang sama seperti puluhan tahun lalu.
Akibatnya, menurut Tommy, tidak sedikit anak muda yang merasa disalahmengerti oleh generasi sebelumnya. Mereka memiliki kreativitas, pertanyaan, keresahan, dan cara berpikir yang sering kali belum mendapat ruang cukup di dalam gereja.
“Anak-anak muda sekarang kebanyakan disalahmengerti oleh generasi-generasi sebelumnya. Padahal mereka harus diberikan kesempatan untuk menyalurkan apa yang ada pada mereka kepada gereja,” jelasnya.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”