Bertahan Bukan Karena Kuat

Renungan Harian / 11 June 2026

Bertahan Bukan Karena Kuat
Lori Official Writer
      132

Ibrani 6:17–19

"Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah, supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir..."

 

Seorang pendaki tebing tidak pernah memanjat dengan sembarangan. Sebelum melangkah ke atas, dia akan lebih dulu memastikan satu hal: jangkarnya terpasang kuat.

Bukan karena dia tidak percaya dengan kemampuannya sendiri, tetapi karena tahu "kalau tangannya lepas saat badai datang mendadak atau saat tenaganya habis di tengah jalur", yang menentukannya jatuh atau tidak bukan seberapa kuat pegangannya melainkan seberapa kuat jangkar yang menahannya.

Itulah gambaran yang dipilih penulis Ibrani untuk menggambarkan pengharapan kita di dalam Yesus. Kata yang dipakai bukan "nyaman" atau "menenangkan" — melainkan kuat dan aman. Pengharapan itu ibarat tali penahan yang tetap membuat kita bertahan sekalipun di tengah tekanan maupun ancaman. Kebenarannya adalah jangkar tidak mencegah ombak datang, tetapi memastikan kapal tidak hanyut ketika ombak menerjang.

Inilah kekuatan pengharapan yang disebutkan dalam Ibrani 16: 17-19 - bahwa situasi apapun yang melanda - entah itu dikecewakan, terhimpit oleh persoalan, krisis dan sebagainya, kita tetap teguh bertahan karena bertumpu kepada Yesus sang Imam Besar kita (Roma 8:38–39).

Jadi, tidak ada satupun kondisi dalam hidup kita sekalipun itu adalah diagnosa penyakit yang mematikan, keputusan berat, krisis keuangan atau bahkan berita-berita tidak menyenangkan yang dapat memotong tali yang menghubungkan kita dengan jangkar itu. Bukan karena tangan kita yang kuat berpegangan, tetapi karena Dia sendiri yang memegang kita.

Tangan Tuhan yang selalu menopang menjadi jaminan kita untuk tetap merasa aman dan nyaman. Jadi, yang perlu kita pastikan adalah apakah kita masih tetap melabuhkan jangkar pengharapan kita kepada Tuhan? Firman-Nya adalah tali penghubung itu. Doa adalah cara kita memastikan tali itu tetap terpasang kuat. Dan komunitas orang-orang percaya adalah teman sependakian yang akan mengingatkan dan memastikan jangkar kita tetap terpasang kuat.

 

Momen Refleksi:

1. Di tengah situasi yang paling mengguncangmu saat ini — apakah kamu lebih banyak berfokus pada besarnya ombak, atau pada kekuatan jangkar yang menahanmu? Apa yang perlu berubah dari cara kamu memandang situasi itu?

2. Seberapa kencang "tali" yang menghubungkanmu dengan jangkar itu hari-hari ini - baik dalam doa maupun dalam perenungan Firman Tuhan.

 

Baca Juga Renungan Lainnya:

Masuk Tungku Bukan Sebagai Hukuman Tetapi Pembentukan

Penderitaan yang Ditukar Dengan Kemuliaan

Dipangkas Tidak untuk Dibuang, Tapi Dibentuk

 

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?