Fenomena menikah muda kembali banyak terlihat di kalangan anak muda, termasuk Gen Z. Ada yang menikah di awal usia 20-an, bahkan ada juga yang belum genap 20 tahun sudah ingin membangun rumah tangga. Bagi sebagian orangtua, hal ini tentu bisa menimbulkan kekhawatiran.
Di satu sisi, anak terlihat serius dengan hubungannya. Namun di sisi lain, orangtua memahami bahwa pernikahan bukan sekadar soal cinta, tetapi juga kesiapan iman, mental, karakter, dan tanggung jawab.
Di Indonesia, batas usia minimal menikah bagi laki-laki dan perempuan adalah 19 tahun berdasarkan UU No. 16 Tahun 2019. Perkawinan di bawah usia tersebut membutuhkan dispensasi dari pengadilan.
Namun, pertanyaan tentang pernikahan di usia muda ini ga cuma sebatas apakah sudah boleh secara hukum? Lebih dari sah secara hukum, orangtua harus berpikir, “Apakah anak saya benar-benar siap memasuki perjanjian pernikahan di hadapan Tuhan?”
BACA JUGA: Menikah Gak Sebahagia Itu, Curhatan Ayah Dua Anak yang Pacaran Lama dan Nikah Muda
Pernikahan dalam iman Kristen bukan hanya perayaan cinta pasangan kekasih. Pernikahan adalah komitmen kudus yang menuntut kesetiaan, pengorbanan, pengampunan, dan kedewasaan. Karena itu, ketika anak ingin menikah di usia muda, orangtua perlu bersikap bijak.
Jangan langsung melarang, tapi juga tidak langsung merestui. Berikut beberapa sikap yang bisa dilakukan orangtua saat anak ingin menikah muda:
1. Jangan langsung menghakimi, dengarkan dulu alasan anak
Respons pertama orangtua sangat menentukan apakah anak akan terbuka atau justru menutup diri. Saat anak menyampaikan keinginannya untuk menikah muda, usahakan untuk tidak langsung marah, menganggap remeh, atau mempermalukannya.
Kalau respons awal orangtua penuh marah, anak bisa makin tertutup dan mencari validasi dari luar. Dengarkan dulu alasan mereka. Apakah keputusan itu lahir dari kesiapan yang matang?
BACA JUGA: Nih 5 Untung Rugi Menikah Sebelum Usia 30-an
Atau justru karena tekanan lingkungan, takut jatuh dalam dosa, ingin bebas dari rumah, mengikuti tren, atau terbawa gambaran romantis dari media sosial?
Kadang yang perlu diuji bukan hanya keputusannya, tetapi motivasi di balik keputusan itu. Anak yang sedang jatuh cinta biasanya sulit menerima nasihat yang disampaikan dengan keras. Namun ketika orangtua mau mendengar dengan tenang, anak akan lebih mudah diajak berpikir jernih.
Sebagai orangtua yang beriman, kita dipanggil untuk menjadi penuntun bagi anak-anak kita, bukan sebagai hakim atas keputusan atau kemauan mereka. Mengasihi anak berarti memberi ruang untuk mendengar isi hatinya, sambil tetap menolongnya melihat realitas dengan lebih dewasa.
2. Ajak anak menjalani konseling pranikah yang serius
Jika anak sudah menunjukkan keseriusan, langkah berikutnya adalah mengarahkan mereka mengikuti konseling pranikah. Bukan sekadar formalitas sebelum pemberkatan, tetapi proses untuk menguji kesiapan secara menyeluruh.
Dalam konseling pranikah, anak dan pasangannya bisa dibantu untuk membahas banyak hal penting, mulai dari komunikasi, keuangan, mengelola konflik, relasi dengan keluarga besar, seksualitas, visi hidup, serta pertumbuhan rohani.
BACA JUGA: Gak Ada yang Siap Nikah Muda By Accident, Biar Gak Ngalamin Yuk Belajar Tips Jalani Single
Banyak pasangan muda merasa sudah siap menikah karena saling mencintai. Namun setelah masuk rumah tangga, mereka baru menyadari bahwa cinta saja tidak cukup. Ada keputusan-keputusan besar yang harus dihadapi bersama, ada tekanan ekonomi, ada perbedaan karakter, dan ada konflik yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan perasaan.
Karena itu, konseling pranikah menjadi ruang penting untuk melihat apakah hubungan itu benar-benar siap dibawa ke jenjang pernikahan. Pada tahap ini, orangtua bisa melibatkan gembala, mentor rohani, atau konselor keluarga yang dipercaya.
Sumber : Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”