Pernahkah kamu bertanya, kenapa di Perjanjian Lama orang harus mempersembahkan kurban hewan, tetapi sekarang hal itu tidak dilakukan lagi? Apakah hukum Tuhan berubah? Atau ada sesuatu yang lebih dalam yang sebenarnya ingin disampaikan?
Pertanyaan ini penting, karena menyentuh langsung inti dari iman Kristen. Dan jawabannya bukan sekadar perubahan aturan, tetapi tentang rencana besar Tuhan yang digenapi melalui Yesus Kristus.
Mari kita bahas bersama dengan cara yang sederhana, supaya kamu bisa benar-benar memahami apa makna kurban dalam Alkitab dan kenapa kurban hewan sudah tidak berlaku lagi.
BACA JUGA: Kurban Hewan Tertulis di Alkitab, Mengapa Orang Kristen Tidak Melakukannya?
Kurban Hewan dalam Perjanjian Lama
Di Perjanjian Lama, kurban hewan adalah bagian utama dari kehidupan rohani umat Israel. Mereka mempersembahkan lembu, domba, kambing dan burung.
Semua harus tanpa cacat, sebagai tanda bahwa yang diberikan kepada Tuhan adalah yang terbaik. Tujuan utama dari kurban ini adalah untuk pendamaian dosa.
Alkitab berkata, “Sebab nyawa makhluk ada di dalam darahnya… Akulah yang memberikannya kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian.” (Imamat 17:11)
Dosa membuat manusia terpisah dari Allah yang kudus. Karena itu, diperlukan darah sebagai bentuk penebusan. Namun, ada satu hal penting yang sering tidak disadari, bahwa kurban ini hanya bersifat sementara.
Kenapa Kurban Hewan Tidak Bisa Menyelesaikan Dosa?
Walaupun kurban dilakukan terus-menerus, sebenarnya itu tidak pernah benar-benar menghapus dosa secara penuh.
Ibrani 10:4 berkata dengan jelas, “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.” Artinya, kurban itu hanya “menutupi” dosa, bukan membersihkan sepenuhnya.
Karena itu, kurban harus dilakukan berulang, setiap hari, setiap tahun, terutama pada Hari Pendamaian (Imamat 16). Ini seperti solusi sementara, bukan penyelesaian akhir.
Tuhan Sudah Memberi Tanda Sejak Awal
Menariknya, bahkan di Perjanjian Lama, Tuhan sudah menunjukkan bahwa Ia tidak hanya menginginkan ritual. Lewat nabi-nabi, Tuhan sering menegur umat-Nya yang rajin berkurban, tetapi hidupnya tidak berubah.
“Aku menyukai kasih setia dan bukan korban sembelihan.” (Hosea 6:6)
“Untuk apa itu korban sembelihanmu banyak-banyak?... Aku sudah jemu.” (Yesaya 1:11)
Artinya jelas, bahwa kurban hewan bukan tujuan akhir. Itu hanya bayangan dari sesuatu yang lebih besar yang akan datang.
Yesus: Kurban yang Menggenapi Semuanya
Masuk ke Perjanjian Baru, kita melihat titik balik yang sangat penting. Ketika Yesus datang, Yohanes Pembaptis berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” (Yohanes 1:29)
Yesus disebut “Anak Domba” karena Ia menjadi kurban yang sempurna. Yang membuatnya berbeda dari semua kurban sebelumnya adalah Ia tidak berdosa, Ia bukan hewan, tetapi Tuhan yang menjadi manusia dan Ia menyerahkan diri-Nya secara sukarela.
Dan yang paling penting:
“Ia telah mempersembahkan satu korban untuk dosa, dan karena itu Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah.” (Ibrani 10:12)
Yesus tidak perlu mati berulang-ulang. Satu kali saja, cukup untuk selamanya.
Dari Menutupi Dosa Menjadi Menghapus Dosa
Ini adalah perubahan paling besar dalam konsep kurban. Di Perjanjian Lama, dosa ditutupi sementara. Di Perjanjian Baru, dosa diampuni dan disucikan sepenuhnya.
“Oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan.” (Ibrani 10:14)
Karena itu, kurban hewan menjadi tidak perlu lagi.
Bukan karena tidak penting, tetapi karena sudah digenapi secara sempurna oleh Yesus.
BACA JUGA: Kurban Sapi Merah dan Kontroversi Pembanguan Bait Allah ke Tiga
Tabir Terbuka: Tidak Ada Lagi Jarak
Saat Yesus mati di kayu salib, terjadi sesuatu yang sangat simbolis:
“Tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.” (Matius 27:51)
Tabir ini dulunya memisahkan manusia dari hadirat Allah. Hanya imam besar yang bisa masuk, dan itu pun setahun sekali. Tapi ketika tabir itu terbelah, artinya sangat jelas, yaitu akses kepada Tuhan sudah terbuka untuk semua orang. Tidak perlu lagi imam sebagai perantara, mezbah fisik dan kurban hewan.
Yesus sendiri menjadi jalan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yohanes 14:6)
Sumber : Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”