Tidak semua cara mendidik anak yang dianggap biasa ternyata benar. Banyak orang tua menjalankan pola asuh yang diwariskan tanpa menyadari bahwa di dalamnya ada luka yang terus diulang. Hal inilah yang dialami oleh sebuah keluarga di NTT, sebelum Tuhan mengubahkan cara pandang mereka tentang arti mendidik anak.
BACA JUGA: Dari Kemarahan dan Penyesalan, Tuhan Memimpin Ibu Dwi Menjadi Teladan di Keluarganya
Pasangan Ibu Cici dan suaminya yang sama-sama berprofesi sebagai guru ini memiliki seorang anak perempuan berusia 10 tahun bernama Fania. Karena kesibukan, Fania lebih sering menghabiskan waktu bersama kakek dan neneknya. Dalam keseharian, mereka menerapkan pola asuh yang menurut mereka wajar dan tegas yang identik dengan keras.
Ibu Cici menyadari dirinya mudah emosi, terutama saat Fania sulit makan, tidak mau tidur siang, atau susah diarahkan. Ketika emosi memuncak, suara meninggi, cubitan, bahkan pukulan menjadi bagian dari “cara mendidik” yang mereka anggap benar.
Sampai suatu hari saat sang ayah mengajari Fania belajar. Karena Fania tidak langsung memahami, emosi meledak dan pukulan pun tak terelakan. Momen itu menjadi titik balik yang menyakitkan, mereka sadar bahwa di balik alasan mendidik, mereka justru melukai anak sendiri.
Melalui The Parenting Project (TPP) di gereja Masehi Injili di Timor Jemaat Efrata Karisin, pemahaman mereka mulai dibongkar. Khususnya saat mempelajari tentang Otoritas Orang Tua, mereka tersadar bahwa tegas tidak berarti keras, dan otoritas tidak perlu ditegakkan dengan kekerasan. Anak justru membutuhkan kesabaran, kedekatan, dan kasih.
"Dalam hal mendidik itu kita dituntut untuk harus tegas kepada anak. Tetapi tegas yang dimaksudkan ini, bukan seperti yang sudah saya lakukan di waktu-waktu lalu, bahwa harus dengan kekerasan, karena memang kita kebanyakan orang NTT itu seperti itu. Jadi pemahaman kita tegas itu harus keras dengan cara nada suara tinggi, kemudian pukul, cubit seperti itu. Ternyata tidak, tidak harus seperti itu." Tutur Ibu Cici.
Setelah kejadian itu, sang ayah dengan rendah hati meminta maaf kepada Fania. Mereka bertiga berpelukan. Fania menangis, tetapi dengan hati yang tulus, ia mengampuni tanpa menyimpan dendam. Sejak saat itu, mereka membuat komitmen baru: saling mengingatkan, mengendalikan emosi, dan lebih banyak berbicara daripada menghukum.
Perubahan juga terlihat dalam diri Fania. Ia pun bertumbuh secara rohani, menjadi anak yang mudah memaafkan dan melupakan kesalahan kedua orang tuanya.
Melalui perjalanan ini, keluarga tersebut melihat bagaimana Tuhan memulihkan mereka, bukan hanya dalam cara mendidik anak, tetapi juga dalam membentuk hati dan iman seluruh keluarga.
BACA JUGA: Saya Pergi 14 Tahun, Tapi Ternyata Bukan Uang yang Paling Dibutuhkan Anak – Kisah Sudarti
Kisah Ibu Cici dan keluarga menunjukkan bahwa banyak orang tua rindu menjadi versi terbaik untuk anak-anak mereka, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Melalui The Parenting Project, para orang tua diperlengkapi untuk belajar mendengar, memahami, dan membangun relasi yang lebih sehat di dalam keluarga.
Dukungan Anda dapat menolong lebih banyak keluarga mengalami pemulihan seperti yang dialami Ibu Cici dan keluarga. Mari ambil bagian dalam perubahan ini dengan berdonasi untuk The Parenting Project, agar semakin banyak orang tua diperlengkapi dan semakin banyak anak menemukan rumah sebagai tempat yang aman untuk bercerita.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”