Ketika anak ketahuan berbohong, reaksi pertama banyak orang tua biasanya adalah marah. Padahal, sebelum emosi mengambil alih, ada baiknya kita berhenti sejenak dan memahami situasinya.
Dalam banyak kasus, anak berbohong bukan sekadar karena nakal atau tidak punya moral, melainkan ada alasan yang lebih dalam di balik perilaku tersebut.
Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa pola asuh sangat memengaruhi kejujuran anak. Terutama pada keluarga dengan gaya pengasuhan strict parents.
Pola asuh strict parents membuat anak cenderung lebih sering menyembunyikan kebenaran dibandingkan anak yang dibesarkan dengan pendekatan hangat, tegas, namun tetap adil. Kenapa demikian?
BACA JUGA: Niatnya Sih Baik. Tapi, Overprotective Pada Anak Bisa Berdampak Buruk Lo
Secara psikologis, fenomena ini dikenal sebagai mekanisme pertahanan diri, atau avoidant coping. Anak belajar bahwa berkata jujur sering kali berujung pada hukuman, kritik, atau rasa malu.
Akibatnya, anak berbohong sebagai strategi untuk melindungi diri dari konsekuensi negatif tersebut. Ini bukan berarti mereka tidak tahu mana yang benar, tetapi mereka merasa tidak aman untuk mengatakan yang sebenarnya.
Penelitian dalam psikologi perkembangan juga mendukung hal ini. Anak yang dibesarkan oleh strict parents atau orang tua yang otoriter dan cenderung menghukum, sering mengembangkan kebiasaan berbohong sebagai kemampuan untuk bertahan hidup.
Mereka lebih fokus menghindari hukuman daripada memahami nilai kejujuran itu sendiri.
Hal ini juga tercermin dari pengalaman banyak orang. Salah satu pengguna media sosial di X, membagikan kisahnya.
BACA JUGA: 5 Tanda Anda Terlalu “Ikut Campur” dalam Kehidupan Anak, Yuk Belajar dari Parenting Tuhan
“Jadi inget dulu sering dimarahin ortu karena ngelakuin kesalahan, terus akhirnya terpaksa bohong biar ga dimarahin. Terus pas ketahuan bohong, ditanyain kenapa kok berani bohong? Aku jawab, ‘soalnya kalau jujur nanti dimarahin,’” tulis akun @primawansatrio.
Dari sudut pandang psikologi, pola asuh yang terlalu keras cenderung menghasilkan fear-based compliance—anak patuh karena takut, bukan karena memahami nilai yang benar.
Dalam jangka panjang, ini bisa berdampak pada rasa percaya diri yang rendah, kesulitan bersikap jujur, bahkan pemberontakan saat dewasa.
Sementara itu, dari perspektif iman Kristen, orang tua dipanggil untuk mendidik anak dengan kasih dan disiplin yang seimbang. Amsal 13:24 dan Efesus 6:4 menekankan pentingnya disiplin yang membangun, bukan yang menimbulkan ketakutan.
Jika anak berbohong demi merasa aman, itu bisa menjadi tanda bahwa pendekatan pengasuhan perlu diperbaiki.
Ketika kita mendapati anak ketahuan berbohong, jangan langsung marah. Cobalah ajak bicara dengan tenang, cari tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Bangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk jujur. Dengan begitu, kejujuran tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan, melainkan nilai yang tumbuh dari dalam diri mereka.
BACA JUGA: 2 Gaya Parenting Toxic di Alkitab yang Hancurkan Anak, Patut Dihindari!
Karena pada akhirnya, tujuan kita bukan sekadar membuat anak patuh, tetapi membentuk karakter yang kuat dan penuh integritas.
Jika Anda sedang bergumul menghadapi anak yang berbohong atau merasa lelah dengan dinamika sebagai orang tua, Anda bisa menghubungi Layanan Doa CBN untuk mendapatkan dukungan dan didoakan secara pribadi.
Tim konselor siap melayani akan membantu Anda menemukan kekuatan, penghiburan, dan hikmat dalam menghadapi setiap tantangan keluarga. Hubungi kami via WhatsApp di 0822-1500-2424 atau klik tombol di bawah:
Sumber : Berbagai SumberIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”