Bagaimana jika sebuah kisah Alkitab bukan sekadar cerita, tetapi menjadi cermin yang mengubah hati seorang anak? Inilah yang dialami oleh Cindy Sanak, gadis kecil berusia 12 tahun dari Timur Tengah Selatan, NTT—sebuah kesaksian sederhana namun penuh kuasa tentang bagaimana Tuhan bekerja melalui Program Superbook.
Anak yang Aktif, Namun Mudah Tersulut Emosi
Cindy adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang tukang ojek dan ibunya ibu rumah tangga. Kehidupan sehari-hari di rumah yang sederhana kerap diwarnai pertengkaran kecil antarsaudara—rebutan mainan, rebutan makanan, atau sekadar merasa tidak diperlakukan adil.
Ibu Frida, sang mama, mengakui bahwa Cindy memiliki perasaan yang cukup sensitif. “Cindy termasuk anak yang sensitif. Ia sering bertengkar dengan saudara-saudaranya, terutama ketika mereka saling berebut sesuatu atau merasa dia diperlakukan tidak adil,” tutur Ibu Frida.
Saat itu terjadi, Cindy akan langsung menangis, bahkan tidak jarang konflik itu berujung pada perkelahian kecil. Ini menjadi tanda bagaimana Cindy kecil tidak paham bagaimana cara mengelola kemarahan dan kekecewaannya dengan baik.
Baca Juga: Dari Anak yang Tak Mengerti Menjadi Paham Firman Tuhan
Kisah Kain dan Habel yang Menyentuh Hatinya
Perubahan itu bermula dari sebuah Rabu Ceria di GMIT Sewasi Oekamusa. Dalam kegiatan Program Superbook yang difasilitasi oleh Bapak Antoni Efences, anak-anak menonton kisah Kain dan Habel. Melalui cerita itu, mereka belajar tentang iri hati, kemarahan, serta akibat dari hati yang tidak dijaga.
Cindy menonton dengan tenang dan penuh perhatian. Ia menyimak dengan serius. Namun saat tiba di bagian yang paling menyentuh—momen saling mengampuni—sesuatu terjadi di dalam dirinya. “Bagian yang paling menyentuh adalah saat ada momen saling mengampuni. Saat itu Cindy terlihat tersentuh, bahkan sampai menangis,” ungkap Ibu Frida.
Firman Tuhan yang disampaikan melalui Program Superbook mulai bekerja sebagai benih kebenaran di dalam hati Cindy. Ia mulai memahami bahwa kemarahan dan iri hati dapat membawa dampak buruk, dan bahwa Tuhan melihat isi hati setiap orang.
Setelah menyaksikan tayangan itu, anak-anak diajak untuk mengingat siapa yang pernah mereka sakiti atau marahi. Kemudian mereka diminta untuk saling meminta maaf. Cindy mengikuti proses tersebut dengan serius. Ia aktif dalam kegiatan Superbook, bahkan menjadi salah satu anak yang antusias dalam menghafal ayat Alkitab.
Proses pembelajaran itu bukan sekadar aktivitas kelas. Bagi Cindy, momen tersebut menjadi titik balik perubahannya. Seperti diungkapkan sang mama, “Puji Tuhan, Cindy sekarang menjadi anak yang lebih mudah mengampuni. Ia juga lebih lembut dalam berbicara dan mulai membangun hubungan yang lebih baik dengan saudara-saudaranya.”
Baca Juga: Dulu Suka Pulang di Tengah Ibadah, Sekarang Jadi Anak yang Paling Semangat Sekolah Minggu
Kini, ketika melakukan kesalahan, Cindy tidak lagi mempertahankan diri dengan tangisan atau kemarahan. Ia langsung meminta maaf—baik kepada gurunya maupun kepada saudara-saudaranya. “Sekarang hubungan mereka lebih baik. Mereka lebih sering berdamai dan bahkan bisa saling berpelukan. Perubahan ini sangat terlihat dibandingkan sebelumnya,” tambah Ibu Frida.
Puji Tuhan! Melalui Superbook, satu lagi benih iman dan karakter Kristus bertumbuh dalam diri seorang anak.
Jika Anda terinspirasi dengan kesaksian ini, mari bagikan kepada orang-orang terdekat Anda. Dengan demikian, Anda turut mendukung pelayanan pemuridan Superbook agar dampaknya bisa didengar oleh lebih banyak orang. Yuk share sekarang!
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”