Kalau Yesus itu Tuhan, kenapa Dia membasuh kaki para murid? Bukankah itu pekerjaan kotor yang seharusnya dilakukan oleh seorang hamba, bukan Tuhan?
Yesus sebenarnya bisa saja meminta salah satu murid-Nya untuk membasuh kaki semua orang di Perjamuan Terakhir, tetapi Yesus tidak menginginkan hal itu.
Peristiwa ini dicatat dalam Yohanes 13, saat Perjamuan Terakhir. Ketika para murid sibuk membahas siapa yang lebih baik dan layak ditinggikan (Lukas 22:23), Yesus justru bangkit dari meja, mengambil kain, lalu mulai membasuh kaki mereka satu per satu.
Sebagai Tuhan, Yesus justru merendahkan diri-Nya untuk melayani para murid. Untuk memahami betapa radikalnya tindakan Yesus, kita perlu mempelajari makna pembasuhan kaki dengan melihat konteks budaya saat itu.
Pada zaman ketika Yesus hidup, orang berjalan menggunakan sandal di jalanan berdebu dan membuat kaki menjadi bagian tubuh yang paling kotor. Karena itu, membasuh kaki sudah menjadi kebutuhan sekaligus menjadi bagian dari sopan santun ketika menerima tamu.
Tapi perlu diperhatikan bahwa tugas membasuh kaki biasanya dilakukan oleh seorang hamba, bahkan dianggap sebagai pekerjaan paling rendah.
Dalam Perjamuan Terakhir, tidak ada hamba yang melakukan tugas tersebut. Menariknya, para murid juga tidak mengambil inisiatif untuk melakukannya. Mereka justru sibuk memikirkan siapa yang terbesar.
Tetapi, Yesus justru mengambil peran seorang hamba, “Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya.” (Yohanes 13:4)
Tidak heran Petrus terkejut dan berkata, “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya!” (Yohanes 13:8a)
Tindakan Yesus telah membalikkan cara pandang tentang kehormatan dan posisi.
Pembasuhan kaki pertama-tama menunjukkan karakter Yesus sendiri.
Meskipun Ia adalah Tuhan dan Guru, Yesus tidak menuntut untuk dilayani. Sebaliknya, Ia memilih untuk melayani.
Ia berkata, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” (Yohanes 13:13)
Namun kemudian Ia menambahkan, “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yohanes 13:14-15)
Yesus tidak hanya mengajar dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan sebagai teladan.
Apa yang dilakukan-Nya sejalan dengan tujuan kedatangan-Nya seperti yang tercatat dalam Matius 20:28, “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Menariknya, pembasuhan kaki terjadi ketika Yudas masih ada bersama mereka (Yohanes 13:2). Ini menunjukkan bahwa pelayanan dan kasih Yesus tidak bergantung pada respon manusia.
Bagi para murid, ini menjadi pelajaran penting bahwa kebesaran dalam Kerajaan Allah tidak diukur dari posisi, tetapi dari kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani.
Selain sebagai teladan, pembasuhan kaki juga memiliki makna rohani. Ketika Petrus menolak, Yesus berkata, “Jika Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” (Yohanes 13:8b)
Pernyataan ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan Yesus untuk disucikan. Ayat 10 kemudian menjelaskan, “Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.”
Ada dua kebenaran penting yang perlu kita catat:
Seperti orang yang sudah mandi tetapi kakinya tetap kotor karena berjalan, demikian juga hidup kita. Dalam perjalanan hidup, kita bisa terkena “kotoran” dosa.
Karena itu, kita perlu terus datang kepada Tuhan, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9)
Proses ini disebut sebagai pengudusan, proses di mana Tuhan terus membersihkan dan membentuk hidup kita.
Pembasuhan kaki mengingatkan bahwa hidup sebagai pengikut Yesus bukan soal status, tetapi soal sikap hati yang mau melayani.
Kita dipanggil untuk hidup dengan kerendahan hati, memiliki kerelaan untuk melayani, dan tidak hanya ingin dilayani, serta terus membuka diri untuk dipulihkan oleh Tuhan dalam setiap proses kehidupan kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini bisa diwujudkan melalui tindakan-tindakan sederhana, seperti menolong orang lain, belajar mengampuni seperti yang diajarkan dalam Kolose 3:13, serta mengutamakan kepentingan orang lain sebagaimana diingatkan dalam Filipi 2:4.
Di sisi lain, kita juga perlu menyadari bahwa kita tidak sempurna. Kita tetap membutuhkan Tuhan setiap hari untuk membersihkan dan memulihkan hati kita.
Dalam Yohanes 13:17 Yesus berkata, “Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.”
Yesus membasuh kaki para murid bukan karena Ia kurang berkuasa, tetapi justru karena Ia adalah Tuhan yang penuh kasih dan kerendahan hati. Ia datang untuk melayani, menyelamatkan, dan memulihkan manusia.
Sekarang, apakah Anda mau mengenal Yesus secara pribadi?
Ia bukan hanya tokoh dalam Alkitab, tetapi Tuhan yang hidup, yang rindu menjalin hubungan dengan Anda, mengampuni dosa, dan memberi hidup yang baru.
Jika Anda rindu mengenal Yesus lebih dalam, tim Layanan Doa CBN akan membantu dan membimbing Anda secara pribadi. Hubungi Layanan Doa CBN via WhatsApp: 0822-1500-2424
Sumber : Berbagai Sumber