Pernahkah Anda mendengar pernyataan, "Yesus hanya nabi. Pauluslah yang menjadikan Yesus Tuhan"? Klaim ini sering diulang, seolah menjadi "fakta sejarah" yang tak terbantahkan. Pertanyaan seperti, "Jika Paulus tidak pernah ada, apakah kekristenan juga tidak akan pernah ada?" dipakai untuk menggoyang fondasi iman Kristen. Namun, sebelum kita menerima begitu saja narasi yang populer ini, mari kita telusuri dengan kepala dingin: benarkah kekristenan adalah "agama Paulus"? Ataukah ini hanya mitos yang bertahan karena jarang diuji secara serius? Mari kita bongkar klaim ini berdasarkan fakta Alkitab dan sejarah, bukan emosi.
Pertama, kita harus meluruskan garis waktu yang krusial: Kekristenan sudah ada sebelum Paulus bertobat. Paulus, yang awalnya bernama Saulus, justru terkenal sebagai penganiaya gereja. Ini membuktikan dengan jelas bahwa gereja, pemberitaan Injil, dan penyembahan kepada Yesus telah hidup dan berkembang sebelum Paulus menulis satu pun suratnya. Jemaat pertama telah berdiri di Yerusalem, dipimpin oleh para rasul yang hidup dan belajar langsung dari Yesus. Logikanya, jika Paulus adalah "pendiri" agama ini, mengapa dia justru berusaha membasmi para pengikutnya?
Kedua, ajaran tentang keilahian Yesus bukan ciptaan Paulus, melainkan tercatat dalam Injil-injil yang mencatat kehidupan Yesus sendiri. Sebelum Paulus aktif, Yesus sudah menyatakan diri-Nya dengan otoritas ilahi: Dia mengampuni dosa (Markus 2:5-7), menyatakan kesatuan-Nya dengan Bapa (Yohanes 10:30), menerima penyembahan (Matius 14:33), dan menyebut diri-Nya "Tuhan atas hari Sabat" (Markus 2:28). Paulus tidak mencipta, ia hanya memberitakan sosok Yesus yang sudah diakui dan disembah oleh gereja mula-mula.
Ketiga, Paulus sendiri sangat menjaga agar ajarannya tidak menyimpang. Dalam Galatia 1:8, dia bahkan mengutuk siapa pun yang memberitakan "Injil lain" selain yang telah diterimanya. Dia tidak menganggap dirinya sebagai otoritas tertinggi, melainkan penjaga kebenaran yang sudah ada. Untuk memastikan keselarasan, Paulus dengan rendah hati pergi ke Yerusalem untuk mengecek apakah Injil yang dia beritakan sama dengan Injil yang diajarkan para rasul utama (Galatia 2:1-2). Jika ajarannya melenceng, tentu dia akan ditolak. Kenyataannya, dia diterima dan diutus.
Bukti terkuat mungkin justru datang dari pengakuan rasul-rasul lain terhadap Paulus. Petrus, misalnya, dalam 2 Petrus 3:15-16, dengan jelas menyebut tulisan-tulisan Paulus sebagai "surat-suratnya" yang termasuk dalam kategori kitab suci, sejajar dengan tulisan lain. Tidak mungkin Petrus akan memberikan pengakuan sedemikian tinggi jika Paulus adalah "pembuat agama baru" yang menyeleweng. Sejarah justru menunjukkan kesatuan dan pengakuan di antara mereka.
Tonton videonya di bawah ini:
Sumber : Jawaban.com