Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh istilah Viral Suami "Jadi Babu", yang ditujukan kepada suami yang bekerja keras mencari nafkah sementara istrinya berperan sebagai ibu rumah tangga (IRT). Istilah ini mencuat setelah pernyataan seorang aktor dalam sebuah podcast yang menyebutkan bahwa istri seharusnya tetap memiliki penghasilan agar bisa mendapatkan apa yang diinginkannya, bukan sepenuhnya bergantung pada suami.
Pernyataan tersebut memicu diskusi luas tentang peran suami dan istri dalam pernikahan. Apakah benar ketika suami bekerja dan istri tidak berpenghasilan maka suami layak disebut “babu”? Bagaimana sebenarnya pandangan pernikahan Kristen menanggapi isu ini?
BACA JUGA: 3 Pilar Merawat Pernikahan Agar Tetap Kuat, Sehat, dan Berkenan kepada Tuhan
Pernikahan Kristen Bukan Relasi Tuan dan Pelayan
Dalam pernikahan Kristen, hubungan suami dan istri bukanlah hubungan hierarki yang menindas. Pernikahan adalah persekutuan hidup antara dua pribadi yang setara di hadapan Tuhan, namun memiliki peran yang berbeda.
Firman Tuhan menegaskan:
“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”
(Kejadian 2:24)
Menjadi satu daging berarti kehidupan, tanggung jawab, dan pengorbanan dijalani bersama. Ketika suami bekerja di luar rumah dan istri mengelola rumah tangga, keduanya sedang berkontribusi bagi keluarga, bukan saling memperbudak.
Tanggung Jawab Suami Bekerja Bukan Bentuk Perbudakan
Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa suami memiliki tanggung jawab untuk menafkahi keluarganya. Bekerja demi keluarga adalah panggilan, bukan bentuk ketertindasan.
“Jika ada seorang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.”
(1 Timotius 5:8)
Ayat ini menunjukkan bahwa bekerja keras demi keluarga adalah wujud iman dan tanggung jawab, bukan alasan untuk merendahkan martabat suami dengan istilah “babu”.
BACA JUGA: Seberapa Penting Intonasi dan Pemilihan Kata dalam Komunikasi Pernikahan?
Istri sebagai Ibu Rumah Tangga Memiliki Nilai yang Tinggi
Di tengah tekanan zaman yang menuntut istri selalu berpenghasilan, Alkitab justru memuliakan peran istri dalam rumah tangga. Peran ibu rumah tangga bukanlah peran pasif atau tidak produktif.
“Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.”
(Amsal 31:10)
Seorang istri yang mengurus rumah, mendidik anak, dan mendukung suaminya memiliki peran strategis dalam membangun keluarga yang takut akan Tuhan.
Bekerja atau Tidak Bekerja Harus Berdasarkan Kesepakatan
Alkitab tidak melarang istri bekerja, tetapi juga tidak menjadikannya kewajiban. Keputusan tersebut seharusnya diambil melalui komunikasi dan kesepakatan suami istri, bukan karena tekanan sosial atau tren viral.
“Segala sesuatu hendaklah berlangsung dengan sopan dan teratur.”
(1 Korintus 14:40)
Ketika keputusan diambil bersama, tidak akan muncul rasa dimanfaatkan atau direndahkan.
Pernikahan Adalah Kerja Sama Bukan Ajang Pembuktian
Istilah Viral Suami "Jadi Babu" muncul ketika pernikahan dipandang sebagai kompetisi ekonomi. Pernikahan Kristen mengajarkan saling melayani dalam kasih.
“Hendaklah kamu saling merendahkan diri seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.”
(Efesus 5:21)
Kasih membuat suami bekerja dengan rela dan istri mendukung dengan hormat. Di dalam kasih, tidak ada pihak yang merasa lebih berat memikul beban.
BACA JUGA: Fungsi Suami dan Istri dalam Pernikahan untuk Membangun Keluarga Harmonis
Viral Suami "Jadi Babu" seharusnya menjadi refleksi, bukan ejekan. Pernikahan Kristen dibangun bukan atas dasar siapa yang paling menghasilkan uang, tetapi siapa yang paling setia mengasihi dan bertanggung jawab.
“Tetapi di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”
(Kolose 3:14)
Butuh Doa, Konseling, atau Pendampingan?
Jika Anda dan pasangan sedang dalam pergumulan berat pernikahan, jangan hadapi sendirian. Silakan hubungi nomor Layanan Doa CBN di bawah ini.
Sumber : Jawaban.com