Bayangkan situasi ini. Anda sudah berjanji makan malam bersama pasangan sepulang kerja. Namun, menjelang jam pulang, atasan meminta Anda lembur untuk membantu menyelesaikan proyek penting. Di satu sisi, Anda ingin menghargai pasangan yang sudah menunggu. Di sisi lain, Anda merasa tidak enak hati jika harus menolak atasan.
Dalam kondisi seperti ini, setiap orang bisa mengambil keputusan yang berbeda. Ada yang berani berkata tidak dengan sopan, ada yang mencoba mencari jalan tengah, dan ada pula yang langsung mengiyakan permintaan atasan meski hatinya tertekan.
Respons seperti ini sering kali mencerminkan kecenderungan kepribadian seseorang, apakah ia seorang people person atau justru seorang people pleaser.
Sekilas, kedua istilah ini tampak serupa. Keduanya menggambarkan pribadi yang ramah, mudah bergaul, dan peduli terhadap hubungan dengan orang lain. Namun, jika dilihat lebih dalam, motivasi di balik sikap tersebut sangatlah berbeda.
People Person punya Motivasi yang Sehat
Istilah people person mulai dikenal luas sejak tahun 1990-an. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan orang yang menikmati interaksi sosial dan memiliki kemampuan interpersonal yang baik.
Mereka mampu membangun relasi yang sehat dengan atasan, rekan kerja, bawahan, maupun klien, tanpa harus mengorbankan nilai dan batas pribadi.
Seorang people person mempertimbangkan kepentingan orang lain secara dewasa dan seimbang. Ia dapat berkata ya atau tidak dengan alasan yang jelas.
Tidak heran jika kemampuan ini sering dikaitkan dengan keberhasilan dalam pekerjaan dan kepemimpinan. Bahkan tokoh kepemimpinan seperti John C. Maxwell menekankan pentingnya kecakapan relasi dalam bukunya Be a People Person.
People Pleaser dan Tekanan untuk Selalu Menyenangkan
Berbeda dengan people person, people pleaser adalah pribadi yang terdorong untuk menyenangkan orang lain karena takut mengecewakan atau tidak disukai.
Ia sulit menyampaikan pendapat, enggan berkata tidak, dan sering kali mengorbankan kebutuhan serta keinginannya sendiri demi persetujuan orang lain.
Seorang people pleaser cenderung selalu mengiyakan permintaan, jarang marah, dan merasa dirinya berharga hanya jika diterima oleh lingkungan. Di balik sikapnya yang tampak baik dan penurut, sering tersembunyi rasa rendah diri dan ketakutan akan penolakan.
Bagaimana Kekristenan Memandang People Pleaser
Sebagai orang Kristen, kita memang diajar untuk mengasihi sesama dan menjadi berkat bagi orang lain. Namun, mengasihi tidak berarti harus menyenangkan semua orang dengan segala cara.
Ketika keinginan untuk diterima manusia menjadi tujuan utama, kita berisiko kehilangan arah dan identitas diri. Rasul Paulus pernah menghadapi tuduhan bahwa ia berusaha menyenangkan manusia.
Namun, Paulus dengan tegas menyatakan bahwa tujuan hidupnya adalah berkenan kepada Allah, bukan mencari persetujuan manusia, seperti yang tertulis dalam Galatia 1:10.
Agar kita tidak terjebak menjadi people pleaser, kita harus bisa menetapkan batas yang sehat. Kita perlu mengenali sampai di mana kita bisa berkompromi dan kapan harus berdiri teguh pada nilai yang benar.
Selama fokus hidup kita adalah menyenangkan Tuhan, kita dapat membangun relasi yang hangat dan tulus tanpa kehilangan diri sendiri. Dengan demikian, kita dapat menjadi pribadi yang ramah dan peduli seperti people person, tanpa terjerat tekanan sebagai people pleaser.
Sumber : Jawaban.com