Modal Utama Menjadi Bijaksana adalah Mau Dikoreksi
Sumber: Canva.com

Kata Alkitab / 15 October 2025

Kalangan Sendiri

Modal Utama Menjadi Bijaksana adalah Mau Dikoreksi

Aprita L Ekanaru Official Writer
11654

Pernahkah Anda merasa tersinggung atau ingin membela diri ketika seseorang, entah itu pasangan, rekan kerja, atau pemimpin rohani memberikan koreksi atau teguran? Perasaan itu wajar. Namun, tahukah Anda bahwa dalam momen itulah tersembunyi sebuah pintu gerbang menuju hikmat yang sesungguhnya? Dunia mungkin membisikkan bahwa menerima koreksi adalah tanda kelemahan, tetapi Firman Tuhan justru menyatakan sebaliknya. Kebijaksanaan sejati, yang mampu membedakan yang benar dan salah serta mengambil keputusan yang berkenan di hati Tuhan, ternyata tidak dimulai dari banyaknya pengetahuan, melainkan dari sebuah sikap hati yang sederhana, kerendahan hati untuk mau dikoreksi.

Alkitab dengan sangat jelas menempatkan sikap ini sebagai fondasi. Dalam Amsal 15:31-32 tertulis, "Telinga yang mendengarkan teguran yang membawa kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan diri tidak suka ditegur, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi." Perhatikan urutannya, bukan "menjadi bijak dulu baru mau ditegur," melainkan "mau mendengarkan tegurannya, maka Anda akan tinggal di antara orang bijak dan memperoleh pengertian." Prosesnya aktif. Kita harus secara sengaja "mengarahkan telinga", memutuskan untuk mendengarkan bahkan ketika itu menyakitkan, karena itulah kunci yang membawa kita ke dalam lingkaran hikmat ilahi.

 

BACA JUGA:

Hikmat Tuhan dalam Memilih Pergaulan dan Pertemanan

5 Cara Memperoleh Hikmat dari Tuhan, Sudahkah Anda Melakukannya?

 

Allah sering kali mengirimkan "Nabi Natan" dalam hidup kita untuk menyampaikan teguran yang kita butuhkan. Ingatlah kisah Raja Daud. Seorang raja yang hebat, seorang penyembah yang disegani, namun jatuh dalam dosa perzinahan dan pembunuhan. Ketika Nabi Natan datang menghadap dan menegurnya dengan sebuah perumpamaan yang menusuk, Daud memiliki dua pilihan: marah dan menyangkal, atau merendahkan hati. Pilihannya adalah, "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." (2 Samuel 12:13). Daud menerima koreksi itu, bertobat, dan meski harus menanggung konsekuensinya, hubungannya dengan Tuhan dipulihkan. Ia menunjukkan bahwa kebesaran sejati terletak pada kemampuan untuk mengakui kesalahan.

 

BACA HALAMAN SELANJUTNYA>>

Sebaliknya, Alkitab juga memberikan contoh tragis dari mereka yang menolak dikoreksi. Raja Herodes menolak teguran keras dari Yohanes Pembaptis tentang pernikahannya yang tidak sah. Penolakannya itu, yang didorong oleh gengsi dan hawa nafsu, akhirnya membawanya pada keputusan memenggal kepala sang pemberi teguran. Herodes memilih untuk mempertahankan citra dan dosanya daripada menerima kebenaran. Akibatnya, ia terperangkap dalam kebodohan dan kejahatannya sendiri. Dua contoh ini dengan gamblang menunjukkan bahwa masa depan kita sangat ditentukan oleh respons kita terhadap koreksi.

Oleh karena itu, ada sebuah pernyataan bijak yang patut kita renungkan, "Mau belajar membuat kita pintar, tetapi mau dikoreksi membuat kita bijaksana." Kepandaian intelektual bisa diperoleh dari buku dan pendidikan, tetapi kebijaksanaan rohani yang adalah penerapan takut akan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, ditempa oleh koreksi dan teguran.

 

BACA JUGA:

Firman Tuhan Tentang Mempersiapkan Diri untuk Masa Depan

Badai Pasti Datang, Bertahan atau Hancur?

 

Mari kita melihat koreksi dari perspektif yang baru. Amsal 27:5-6 mengingatkan kita, "Lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi. Seorang kawan menimbulkan perkaitan, tetapi seorang kekasih memberi teguran yang jujur." Teguran yang tulus, seberapa pun pedihnya, adalah wujud kasih yang nyata. Itu adalah alat yang Allah pakai untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih serupa dengan Kristus.

Jadi, lain kali Anda mendengar sebuah koreksi, berhentilah sejenak. Jangan biarkan emosi langsung bereaksi. Bertanyalah dalam hati, "Tuhan, apa yang hendak Kau ajarkan kepadaku melalui orang ini?" Dengan membuka telinga dan hati bagi teguran, kita tidak hanya terhindar dari kesalahan yang lebih besar, tetapi kita sedang melangkah mantap di jalan menuju hikmat yang dari atas. Itulah janji Firman-Nya.

 

Jika saat ini Anda sedang merasa jauh dari Tuhan dan membutuhkan dukungan, kami mengundang Anda untuk menghubungi Layanan Doa CBN. Kami siap dengan senang hati memberikan bantuan dan dukungan untuk Anda.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami