Martperan Putra Zebua (36) dan istrinya, Kristiana (35), dikaruniai tiga anak yaitu Zisiwa (kelas 4 SD), Siwa (kelas 3 SD), dan Rai (PAUD). Sebagai pasangan yang bekerja, pasangan ini telah bersepakat untuk membagi peran di dalam rumah tangga dan juga pengasuhan anak. Sehingga keduanya selalu kompak dan sepakat di dalam membagi tugas harian.
Namun yang menjadi persoalannya adalah pola pengasuhan. Tanpa sadar bapak Putra rupanya mulai mewariskan pola pengasuhan semi-militer yang dia terima dari orang tuanya – dididik keras, penuh tuntutan dan disiplin ketat. Ia mengaku terkadang kehilangan kendali saat menghadapi ketiga anaknya, seperti menggertak dengan meninggikan suara dan memarahi anak saat mereka memilih menonton daripada belajar sesuai dengan waktu yang disepakati.
Baca Juga: Bagaimana Seorang Ayah yang Gila Hobi Jadi Peduli Anak dan Istri?
Namun berkat undangan dari program The Parenting Project, bapak Putra dan sang istri konsisten menghadiri pengajaran parenting setiap minggu. Di sanalah, melalui 11 modul pembelajaran yang tersedia, Tuhan mengubahkan mindsetnya. Dua materi yang paling membekas adalah “Ayah Menjadi Seorang Ayah” dan “Orang Tua Selamanya”. Putra sadar, peran ayah bukan sekadar mengatur dan mendisiplinkan, tetapi menjadi teladan kasih, kesabaran, dan iman bagi anak-anak.
“Dulu saya dibesarkan dalam pola semi-militer, keras. Apalagi mama saya orang tua tunggal, ekspektasinya tinggi sekali. Jadi semua harus bagus, dengan cara apapun. Itu membuat saya dulu sering keras juga. Tapi sekarang saya sadar, jangan sampai pola itu saya wariskan ke anak-anak,” ungkapnya.
Sejak itu, perubahan nyata terjadi dalam kehidupannya. Putra mulai menahan diri untuk tidak marah. Saat anak-anak bertanya “kenapa” tentang aturan rumah, ia belajar menjawab dengan tenang. Ia menjelaskan bahwa membatasi waktu main HP bukan sekadar aturan, melainkan melindungi kesehatan mata mereka. Ia mengajarkan bahwa mencuci baju sendiri bukan hukuman, tetapi bekal kemandirian kelak ketika mereka harus merantau.
Baca Juga: Kami Kira, Sudah Jadi Orang Tua yang Baik, Tapi Ternyata Kami Salah – Kisah Nyata Elianus
Di rumah, ia membangun kebiasaan baru bersama anak-anak: bangun pagi dengan alarm sendiri, merapikan tempat tidur, dan berdoa. Malam hari mereka berdoa bersama, bahkan anak keduanya sering mengingatkan, “Papa, Mama, ayo kita doa.” Kehidupan rohani keluarga semakin hidup; sekolah Minggu tak pernah absen, dan anak-anak belajar bahwa ibadah adalah gaya hidup, bukan kewajiban.
Putra mengakui, hobi lamanya bermain game pun kini lebih sehat. Ia hanya bermain satu jam seminggu bersama anak pertama, menjadikannya momen kebersamaan, bukan pelarian. Ia juga melatih anak-anak untuk berbagi tanggung jawab, membiasakan mereka belajar disiplin tanpa paksaan.
“Dulu saya pikir mendidik anak itu cukup dengan aturan keras. Tapi lewat The Parenting Project saya belajar, anak-anak lebih butuh teladan daripada teriakan. Komitmen saya sekarang sederhana: saya ingin mereka melihat contoh hidup dari saya, supaya mereka tidak perlu mencari figur lain di luar sana.”
Kini keluarga Putra mengalami pemulihan. Bukan lagi pola lama yang diwariskan, melainkan warisan iman, kasih, dan kemandirian yang akan membentuk masa depan anak-anak mereka.
Apakah Anda rindu mengalami pemulihan yang sama? Mari ajak gereja Anda untuk mengaktifkan pemuridan The Parenting Project sekarang!
Daftarkan gereja Anda dengan klik link di sini atau kunjungi websitenya: https://theparentingproject.id/