Nama saya Feby, seorang ibu tunggal berusia 55 tahun yang membesarkan tiga anak seorang diri setelah pernikahan saya mengalami keretakan. Selama lima tahun terakhir, saya dan anak-anak tinggal di Solo.
Kepindahan ini bukan sekadar keputusan untuk berpindah tempat tinggal, melainkan proses pemulihan, baik secara rohani maupun emosional, khususnya bagi anak-anak saya.
Sejak dipulihkan oleh Tuhan, saya berkomitmen untuk memperdalam iman anak-anak kepada Kristus Yesus, walaupun saya sendiri dulu menikah dan sempat meninggalkan Tuhan.
Namun, dalam perjalanan sebagai orang tua tunggal, saya menyadari bahwa pola asuh saya selama ini lebih banyak ditandai oleh kekerasan dan tekanan.
BACA JUGA: Dulu Doa Aja Susah, Sekarang Anak Ibu Ini Bikin Komunitas Alkitab! Gimana Ya Kisahnya?
Saya meneruskan cara mendidik yang saya terima dari ibu saya dulu yang keras, penuh aturan, bahkan tidak jarang saya menjadi ringan tangan, terutama kepada anak pertama saya.
Saya pikir, dengan cara itu saya sedang mengajarkan anak-anak untuk mengutamakan Tuhan. Tapi kenyataannya, hubungan kami malah dipenuhi dengan luka. Anak-anak saya sering memberontak, membentak, bahkan semakin menjauh secara emosional.
Meskipun tinggal dalam satu apa yang sama, saya dan anak-anak jarang sekali berbincang. Rumah kami tidak terasa seperti rumah yang semestinya.
Sampai suatu hari, di Gereja Gais Gideon Gemunggung Solo, saya mengikuti pelatihan orangtua, The Parenting Project. Awalnya saya pikir saya sudah terlambat karena anak-anak saya sudah besar.
Tapi Roh Kudus menggerakkan hati saya. Saya mengikuti The Parenting Project dengan kerinduan untuk belajar menjadi ibu yang lebih baik atau bahkan mengasuh cucu-cucu saya kelak.
BACA JUGA: Kami Kira, Sudah Jadi Orang Tua yang Baik, Tapi Ternyata Kami Salah – Kisah Nyata Elianus
Dari 11 modul yang diajarkan, saya paling tersentuh dengan modul tentang Membangun Kedekatan.
Selama ini, karena harus menghidupi keluarga sendiri, saya bahkan sempat dua kali bekerja sebagai TKW di luar negeri. Saya melewatkan banyak waktu berharga bersama anak-anak.
Modul Membangun Kedekatan membuka mata dan hati saya bahwa kedekatan emosional jauh lebih penting daripada sekadar memberi secara materi.
Saya mulai belajar mendengarkan. Belajar memahami hati anak-anak, bukan hanya menuntut. Saya belajar menahan emosi, dan merespons dengan kasih.
Prosesnya tentu tidak mudah dan tidak instan, tapi saya melihat tangan Tuhan bekerja. Anak-anak saya mulai berubah. Mereka menjadi lebih terbuka.
Anak laki-laki saya kebetulan menjadi operator pemutaran The Parenting Project di gereja kami juga mengalami perubahan dan pemulihan. Sebelumnya, ia sangat tertutup. Sekarang justru sering bercerita dan tidak pernah lagi berbicara dengan nada tinggi. Saya benar-benar merasakan kasih Tuhan memulihkan keluarga kami.
Ternyata sebagai orang tua, saya masih banyak kekurangan. Tapi saya bersyukur karena Tuhan memberi kesempatan untuk belajar dan berubah.
BACA JUGA: The Parenting Project Jadi Alarm yang Mengingatkan untuk Jadi Orang Tua yang Baik
Saya ingin menyampaikan pesan ini kepada setiap orang tua bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar menjadi orang tua dan mendidik anak seperti yang Tuhan mau.
Jika kita mau merespons panggilan Tuhan untuk berubah, Dia sanggup memulihkan keluarga kita. Jangan menyerah terus belajar, terus bertumbuh.
Apabila Anda juga rindu mengalami pemulihan dalam hubungan dengan anak-anak, seperti yang dialami Bu Feby, jangan ragu untuk mulai belajar. The Parenting Project hadir untuk membekali para orang tua dengan prinsip-prinsip firman Tuhan yang praktis.
Ambil langkah pertama untuk membangun keluarga yang Tuhan kehendaki di www.theparentingproject.id
Dukung The Parenting Project, daftarkan diri Anda sebagai Mitra CBN. Klik tombol di bawah:
Sumber : Jawaban.com