Dalam lembaran sejarah Indonesia, masa pendudukan Jepang sering kali dikenang sebagai periode kelam, tidak hanya bagi bangsa ini, tetapi juga bagi umat Kristen yang tersebar di berbagai daerah.
Namun siapa sangka, di tengah tekanan militer dan propaganda kekuasaan, muncul sosok tak terduga, Shusho Miyahira, seorang perwira Jepang sekaligus pendeta, yang justru menjadi pembela gereja-gereja di Indonesia.
1. Pendudukan Jepang dan Derita Gereja di Indonesia
Tahun 1942, tentara Kekaisaran Jepang berhasil menguasai Indonesia, menggantikan kekuasaan kolonial Belanda. Meski Jepang datang dengan janji “Asia untuk Asia,” kenyataannya tidak demikian.
BACA JUGA: Cerita yang Jarang Diungkap, Gereja HKBP Bukan Didirikan Orang Batak, Tapi...
Gereja-gereja Kristen di Indonesia menghadapi tekanan besar. Banyak misionaris ditangkap, gereja ditutup, dan sekolah-sekolah Kristen dipaksa berganti sistem.
Kekristenan yang selama ini diasosiasikan dengan Barat, terutama Belanda dan Amerika, dianggap sebagai ancaman ideologis. Alkitab disita, kegiatan ibadah diawasi, bahkan ada gereja yang dirusak atau dibakar.
Di sinilah benih penderitaan umat Tuhan makin terasa.
2. Tekanan terhadap Kekristenan dan Alat Propaganda
Jepang menjadikan kekuasaan militernya sebagai alat kontrol ideologi. Kekristenan, dengan dasar Alkitab dan ajaran kasih, berseberangan dengan semangat imperialisme Jepang yang menekankan pengabdian mutlak kepada Kaisar. Maka, gereja dianggap tidak sejalan dan perlu dikendalikan.
Banyak pendeta lokal dipaksa menandatangani kesetiaan kepada Jepang. Sebagian menolak, dan akibatnya, mereka dipenjara atau dibunuh. Bahkan di beberapa tempat, para jemaat hanya bisa beribadah secara diam-diam, dengan satu salinan Alkitab yang tersembunyi dan dibaca bergiliran.
3. Awal Mula Kekristenan di Jepang
Ironisnya, Jepang sendiri punya sejarah kekristenan yang cukup panjang. Kekristenan pertama kali masuk ke Jepang pada abad ke-16 melalui misionaris Katolik dari Portugis dan Spanyol.
BACA JUGA: Sejarah Kekristenan di NTT, Wilayah dengan Umat Kristen Terbanyak di Indonesia
Namun, sejak awal 1600-an, kekristenan dilarang keras di Jepang. Para pengikut Yesus dibunuh atau dipaksa menyembunyikan iman mereka.
Baru setelah era Restorasi Meiji (akhir abad ke-19), Jepang membuka diri dan agama Kristen kembali diizinkan.
Dari sinilah muncul generasi baru orang Kristen Jepang yang punya semangat untuk memberitakan Injil, termasuk ke luar negeri. Salah satunya adalah Shusho Miyahira.
4. Shusho Miyahira, Pendeta dan Perwira Jepang
Shusho Miyahira bukan sosok biasa. Ia adalah seorang tentara Jepang berpangkat perwira, namun juga dikenal sebagai seorang Kristen sejati.
Ia bukan hanya memegang senjata, tapi juga memegang teguh iman dan panggilan hidupnya untuk menjadi hamba Tuhan.
BACA JUGA: Sejarah Kristen di Sulawesi Selatan: Misionaris Martir Bangkitkan Pertumbuhan Gereja Toraja
Selama masa tugasnya di Indonesia, Miyahira justru dikenal sebagai pribadi yang menghormati gereja, melindungi para pendeta lokal, dan bahkan terlibat dalam pelayanan.
Ia sering menghadiri ibadah, mendoakan jemaat, dan diam-diam melindungi gereja dari tekanan militer yang terlalu keras.
5. Peran Shusho Miyahira bagi Gereja Indonesia
Di masa ketika gereja ditekan dan umat Tuhan merasa sendirian, kehadiran Miyahira bagaikan sinar terang dalam kegelapan. Ia dikenal membela beberapa pendeta dari tuduhan subversif, bahkan menolak perintah atasan yang menyuruh pembubaran ibadah.
Dalam catatan lisan dari beberapa tokoh gereja, Miyahira dianggap sebagai “utusan Tuhan dari bangsa asing” yang dikirim untuk menyelamatkan sebagian umat.
Ia membantu menerjemahkan komunikasi antara gereja lokal dan pemerintahan Jepang, menjaga agar Alkitab tidak disita, dan bahkan menyediakan ruang aman untuk para pemimpin gereja berdiskusi.
6. Akhir Hidup dan Warisan
Setelah perang berakhir dan Jepang menyerah pada tahun 1945, Miyahira kembali ke negaranya. Namun pengaruhnya tetap hidup di hati banyak orang Kristen Indonesia.
BACA JUGA: Mengenal Sejarah Kekristenan di Suriah, Tempat Pertobatan Rasul Paulus
Ia tidak hanya meninggalkan nama, tapi juga teladan bahwa sekalipun dalam kekuasaan militer dan politik, iman kepada Tuhan bisa tetap bersinar.
Warisan Miyahira menjadi bagian dari fakta Alkitab yang hidup dalam sejarah gereja bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja, termasuk seorang perwira musuh untuk melindungi umat-Nya.
Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa Alkitab bukan hanya buku sejarah, tapi kitab hidup yang terus digenapi melalui orang-orang yang setia, dari Israel hingga ke ujung bumi, termasuk Indonesia.
Video Sejarah Kristen: Shusho Miyahira, Perwira Jepang yang Membela Gereja Indonesia
Sumber : YouTube Jawaban Channel