Hidup dalam Kasih Karunia Tuhan Dan Memuliakan-Nya
Kalangan Sendiri

Hidup dalam Kasih Karunia Tuhan Dan Memuliakan-Nya

Yenny Budhihartono Contributor
      650

Kejadian 6:7-8

Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka." Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.

 

Bacaan setahun : Mazmur 142; Yohanes 19; Zakharia 4-6

Latar belakang dari ayat di atas adalah ketika Tuhan melihat bahwa manusia bertambah jahat setelah kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa. Pertama kalinya Tuhan menyesal telah menjadikan manusia,. Namun di antara sekian banyak manusia yang jahat, ada Nuh yang mendapat kasih karunia di mata Tuhan.

"Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka." Kejadian 6:7b

Tafsiran dari kata "menyesal" ini adalah ungkapan isi hati Allah. Allah berkata demikian karena :

1. Allah yang konsisten terhadap sifat dan karakter-Nya yaitu Kudus.

2. Allah yang harus dipahami melalui konteks firman Tuhan. Berdasarkan konteks Kejadian 6:6-7, Allah yang menyatakan pengakuan-Nya sebagai pencipta (6:6), dan mengungkapkan keputusan Allah (6:7).

3. Allah yang tidak dapat menyangkal diri-Nya harus tetap menyatakan keadilannya dan harus menghukum kejahatan manusia.

4. Allah menghendaki supaya manusia hidup dalam peraturan dan hukum-hukum yang Allah tetapkan dalam kehidupannya.

Melalui tafsiran ini, kita dapat mengerti konteks keberadaan Allah. Ialah yang memegang kedaulatan hidup kita, namun sayangnya saat itu manusia justru bertambah jahat dan murtad. Mereka tidak lagi menghormati Allah dalam kehidupan mereka, dan mereka memakai hidup dengan semena-mena.

"Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN."

Nuh berbeda dari semua manusia di bumi. Ia memiliki hati dan karakter yang tertuju kepada Allah dan menghormati Tuhan. Nuh memilih untuk hidup tidak bercela di hadapan Tuhan dan bergaul dengan Allah sepanjang hidupnya (Kejadian 6:9). Itu sebabnya dia dipilih oleh Allah dari sekian banyak untuk diselamatkan, dan karenanya seisi rumahnya selamat.

 

Tidak dapat dipungkiri, sebagai manusia kita rentan berbuat dosa dan menjadi jahat. Itu sebabnya penting bagi kita menjaga hati dan pikiran kita. Kita tidak boleh membiarkan satu titik dosa saja di hidup kita, yang membuat kita lengah dan mudah kita dikuasai oleh dosa, sehingga akhirnya menjadi jahat dan melupakan Tuhan.

Ikuti Kami