Dalam Kehidupan atau Kematian, Kasih Yesus Selalu Ada
Kalangan Sendiri

Dalam Kehidupan atau Kematian, Kasih Yesus Selalu Ada

Samuel Agus Santoso Contributor
      891

Roma 8:38-39

Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 107; Yakobus 4; Yehezkiel 19-20

Sahabat, ketika membicarakan tentang kematian atau saat menjelang kematian, seringkali dianggap tabu. Jangankan membicarakan, bahkan memikirkan tentang kematian saja ada orang yang mengalami kecemasan yang berlebihan, inilah yang disebut thanatophobia. Akibatnya dari thanatophobia adalah seseorang dapat menghentikan dirinya dari aktivitas sehari-hari atau bahkan meninggalkan rumah mereka.

Thanatophobia sendiri berasal dari bahasa Yunani Thanatos (kematian) dan phobia (ketakutan berlebihan). Suatu saat dalam sebuah acara kesehatan di sebuah TV swasta, seorang wanita berusia 17 tahun bertanya melalui telepon kepada dokter yang memandu acara tersebut. Wanita ini menceritakan bahwa dia mengalami kecemasan yang sangat kuat terhadap kematian. Bahkan dia merasa akan mengalami kematian dalam waktu dekat.

Wanita ini sedih karena dia belum menikah, sementara masih banyak cita-cita yang akan diraih dalam hidupnya. Sang dokter menjelaskan bahwa perasaan cemas yang berlebihan akan memproduksi lebih banyak hormon stres. Dampaknya akan mempengaruhi metabolisme tubuh.

Selain itu dokter juga berkata bahwa, kecemasan yang berlebihan juga membuat impuls saraf ke berbagai bagian tubuh meningkat. Hal ini dapat menyebabkan berbagai keluhan fisik seperti sakit perut, sulit tidur dan sebagainya.

Melihat dampak buruk dari thanatophobia, kita harus kembali kepada Firman Tuhan mengenai kehidupan dan kematian. Paulus mengatakan dalam Filipi 1:21 “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa saat kita masih hidup, kita harus hidup di dalam Kristus. Tinggal di dalam Kristus. Berbuah di dalam Kristus.

Hidup dimaknai sebagai kesempatan untuk melayani Tuhan dan sesama. Sehingga kehidupan di dalam Kristus adalah kehidupan yang dipenuhi damai sejahtera, bukan dikuasai kekuatiran. Demikian pula tentang kematian. Paulus menegaskan bahwa kematian bukanlah hal yang harus dikuatirkan, dicemaskan atau ditakutkan. Tetapi kematian adalah sebuah keuntungan. Sebab kematian adalah terpisahnya tubuh dan roh manusia.

Ketika manusia percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, maka setelah kematian, rohnya akan bersama Kristus di Firdaus (ingat kisah salah satu penjahat yang disalib bersama Yesus). Bahkan Yesus pun berjanji bahwa Dia akan menyediakan rumah di Surga bagi yang percaya kepadaNya. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu (Yohanes 14:2).

Sahabat, karena kasihNya, Tuhan Yesus selalu ada bersama kita baik dalam kehidupan ataupun kematian. Sekarang apa yang harus kita lakukan? Milikilah iman yang kuat di dalam Kristus, hidup adalah Kristus dan mati keuntungan. Mari bangkit dan temukan tujuan hidup kita dalam Tuhan Yesus.

 

Oleh Samuel Agus Santoso

Ikuti Kami