Diwajibkan Pakai Hijab, Jurnalis Amerika Ini Batal Wawancarai Presiden Iran

News / 24 September 2022

Kalangan Sendiri

Diwajibkan Pakai Hijab, Jurnalis Amerika Ini Batal Wawancarai Presiden Iran

Lori Official Writer
577

Kehadiran Presiden Iran Ebrahim Raisi di sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 20-26 September 2022 di New York, Amerika Serikat, menjadi momen penting bagi awak media untuk menggali informasi terkait kasus kematian Mahra Amini. 

Jurnalis dari CNN, Christiane Amanpour pun tak melewatkan momen tersebut. Dia pun berusaha untuk melobi wawancara bersama Presiden Raisi. Namun sebelum melakukan wawancara, Amanpour diminta ajudannya untuk mengenakan hijab. 

“Presiden, kata ajudannya, menyuruh saya memakai hijab karena sekarang bulan suci Muharram dan Safar. Saya menolak dengan halus,” demikian dituturkannya lewat ciutan Twitter pada Kamis (22/9).

Dia pun bersikeras untuk tidak mengenakan hijab dengan alasan wawancara berada di New York yang tidak memiliki kewajiban bagi kaum perempuan untuk mengenakan hijab. Bahkan dia juga menegaskan jika presiden Iran sebelum-sebelumnya, tidak pernah mewajibkan wawancara di luar Iran untuk mengenakan hijab.

“Saya menyoroti bahwa tak pernah ada presiden Iran yang mewajibkan hal tersebut kala saya mewawancarai mereka di luar Iran,” ungkapnya.

 

Baca Juga: Politisi Wanita Ini Usulkan Larangan Atribut Keagamaan di Perancis

 

Sementara ajudan Presiden Iran mengancam takkan ada wawancara jika Amanpour tidak memakai hijab. Akhirnya wawancara dibatalkan lantaran Amanpour menolak untuk berhijab.

“Jadi kami pergi. Wawancaranya tidak terjadi. Mengingat protes terus berlangsung di Iran dan masyarakat terbunuh, merupakan momen penting untuk berbicara dengan Presiden Raisi,” jelasnya.

Amanpour sendiri menyayangkan tindakan pemaksaan tersebut, menyusul kasus kematian Mahra Amini (22 tahun) yang diduga keras terjadi karena hijab yang dikenakan tidak sesuai aturan negara tersebut. Akibatnya, polisi moral yang bertanggung jawab menegakkan aturan berpakaian bagi perempuan.

Dia diduga mendapatkan perlakuan kekerasan fisik yang menyebabkan luka di bagian kepala dan harus dirawat di rumah sakit. Sayangnya, nyawa Amini tak tertolong dan meninggal dunia pada Jumat, 16 September 2022.

Hal ini menyebabkan kemarahan besar dari masyarakat. Unjuk rasa besar-besaran pun terjadi di Teheran dan sejumlah kota lainnya selama enam hari berturut-turut. Di beberapa lokasi, kaum wanita membakar hijab selama protes dan bahkan memotong rambut mereka di depan umum. Mereka meneriakkan penolakan penggunaan hijab. 

Sayangnya, akibat unjuk rasa ini sebanyak 17 orang meninggal dunia, baik dari warga sipil maupun pihak keamanan.

Namun di sela-sela sidang Majelis Umum PBB, Presiden Raisi menyampaikan akan memerintahkan penyelidikan terkait kasus kematian Mahsa Amini. Namun dia menegaskan tidak menerima kebebasan berekspresi yang menyebabkan kekacauan.

 

Baca Juga: Meski Kristen, Atlet Pencak Silat Malaysia Ini Pilih Berhijab Saat Tanding

 

“Ada kebebasan berekspresi di Iran…tetapi kekacauan tidak dapat dimaklumi,” ungkapnya.

Sampai saat ini, kondisi di Iran masih memanas. Aturan berpakaian kaum perempuan menjadi isu besar di negara ini. Hijab bahkan menjadi pakaian yang wajib bagi perempuan karena berkaitan dengan nilai-nilai agama yang dianut di negara ini. Namun menjadi berlebihan jika pelanggaran aturan ini berujung pada kematian.

Sumber : Reuters | CNN
Halaman :
1

Ikuti Kami