Kemendikbudristek Minta Maaf ke PGI Soal Penjelasan Trinitas di Buku PPKN SMP

News / 29 July 2022

Kalangan Sendiri

Kemendikbudristek Minta Maaf ke PGI Soal Penjelasan Trinitas di Buku PPKN SMP

Lori Official Writer
305

Tepatnya pada Kamis, 28 Juli 2022 kemarin, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) meminta maaf kepada pihak PGI secara langsung terkait isi penjelasan konsep Trinitas atau Tri Tunggal yang tercantum di dalam buku PPKN SMP kelas VII.

Melalui Badan Standar, Kurikulum dan Asasmen Pendidikan (BSKAP) permohonan maaf pun disampaikan kepada PGI.

“Kami sadar telah terjadi kekeliruan yang sangat mendasar, dan atas nama Kemendikbudristek RI saya memohon maaf. Kami juga telah memerintahkan ditariknya buku yang telag beredar di sejumlah sekolah, serta dilakukannya revisi segera atas pokok yang bermasalah berdasarkan masukan dari PGI dan KWI,” ungkap Ketua BSKAP Anindito Aditomo, Kamis (28/7).

 

Baca Juga: PGI Minta Tarik Buku PPKN Kemendikbudristek Soal Trinitas Katolik-Protestan yang Keliru

 

Anindito juga mengajak PGI untuk bekerja sama dalam penyusunan buku kurikulum terkait keberagamaan, sebagai langkah untuk menghindari terulangnya kejadian serupa. 

“Kami melihat perlu dicari solusi atas kejadian ini karena telah menjadi bola liar. Sebab itu kami ingin melibatkan PGI secara strategis ke depan untuk bersama menyusun buku terkait keberagaman. Ada semacam Pokja begitu,” ungkapnya.

Permohonan maaf ini juga turut disampaikan oleh salah satu penulis buku, Zaim Uchrowi dan mengaku telah menyusun buku tersebut dengan segala keterbatasan.

“Buku itu sempat dievaluasi bagian kurikulum. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya dan siap menerima koreksi. Ini menjadi satu pembelajaran bagi kami,” ungkap Zaim.

Permohonan maaf tersebut pun disambut baik oleh PGI. Sekretaris Umum PGI Jacklevyn F Manuputty sendiri meminta supaya Kemendikbudristek menghindari konten yang berbau dogma agamadari buku pelajaran umum. 

“Cukup digambarkan saja aspek historis, karakter umum dan prinsip etisnya,” ungkap Sekum PGI.

Melalui pertemuan ini PGI menganjurkan beberapa hal diantaranya:

1. Penyusunan konten atau bahan pembelajaran seputar keagamaan dinilai baik untuk melibatkan lembaga keagamaan yang memiliki otoritas. 

2. Diperlukannya buku babon atau buku moderasi beragama sebagai panduan bersama dalam penyusunan kurikulum terkait kebebasan beragama dan kemajemukan.

3. Pentingnya menghindari pembahasan agama yang bisa menimbulkan kekeliruan dari anak didik terhadap keyakinan tertentu. Sebaliknya, pembahasan isi diarahkan lebih kepada persoalan etik dan moral.

 

Baca Juga: PGI Angkat Suara Soal Insiden Penembakan di Nduga, Desak Pemerintah Bentuk Tim Investigasi

 

Di akhir pertemuan ini, Anindito kembali meyakinkan PGI bahwa bahan pokok yang bermasalah akan segera direvisi. Sementara isi keseluruhan buku akan direvisi selanjutnya.

“Kami akan merevisi pokok yang bermasalah ini segera, sementara revisi buku secara menyeluruh akan dilakukan kemudian, sehingga tidak terjadi kekosongan dalam kurikulum yang sedang berjalan,” ungkap Anindito.

Kita berharap supaya masalah serupa tidak lagi terulang di kemudian hari. Hubungan kerjasama antara pemerintah dan lembaga keagamaan juga bisa berjalan dengan baik.

Sumber : PGI
Halaman :
1

Ikuti Kami