Tak Dengarkan Teguran Nabi, Raja Ini Menuai Akibatnya

Fakta Alkitab / 4 July 2022

Kalangan Sendiri

Tak Dengarkan Teguran Nabi, Raja Ini Menuai Akibatnya

Lori Official Writer
903

Ada ungkapan bahwa kemampuan mendengar adalah kompetensi utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Kemampuan ini bukan sebuah skill melainkan disiplin. Tentu saja bagi seorang dengan kedudukan tinggi bukan perkara mudah untuk selalu bisa mendengar perkataan orang lain.

Dalam sejarah Alkitab banyak ditemukan bagaimana sebagian pemimpin, yaitu para raja menanggapi berbagai nasihat yang mereka dengar. 

 

Raja-raja yang Tidak Taat Mendengar Nasihat di Perjanjian Lama

Perjanjian Lama mencatat bahwa Mesir adalah bangsa yang besar. Kerajaan Mesir menguasai dunia kuno yang luas sejak jaman Abraham hingga jaman raja-raja Israel.

Penguasa Mesir disebut Firaun yang padanan katanya adalah Sri Baginda. Salah satu Firaun pernah memiliki kisah dengan Yusuf. Ahli sejarah menyebut Firaun di jaman Yusuf (1700 SM) bernama Raja Hiksos. Firaun ini bersedia mendengar nasihat Yusuf soal strategi menghadapi bencana kelaparan di Mesir. Bahkan Hiksos menempatkan Yusuf pada posisi Perdana Menteri Mesir saat itu.

 

Baca Juga: Ternyata Roh Kudus Sudah Ada Sejak Penciptaan Dunia Lho!

 

Empat ratus tahun kemudian, Firaun yang berkuasa tidak sebijaksana pendahulunya. Musa menghadapi Firaun yang bernama raja Rameses II. Permohonan Musa untuk melepaskan bangsa Israel dari Mesir hampir menemui jalan buntu. Firaun tidak mau menerima alasan pentingnya Bangsa Israel beribadah kepada Tuhan di padang gurun. Tuhan membutuhkan 10 tulah untuk melunakkan kekerasan hati Firaun hingga dia mengijinkan Bangsa Israel keluar dari Tanah Mesir.

Raja Israel pertama, Saul, juga bukan pemimpin yang bisa mendengar nasihat Samuel. Satu kali, Samuel berkata bahwa sebelum Saul menyerang bangsa Filistin, Sang Raja harus menunggu kedatangan Sang Nabi. Samuel akan mempersembahkan korban persembahan sekaligus memberi petunjuk apa yang harus dilakukan oleh Saul. 

Saat memasuki hari ketujuh seperti yang diucapkan oleh Samuel, Saul belum melihat kedatangan Samuel. Sementara pasukan Filistin sudah mengepung bangsa Israel dan sebagian pasukan Israel yang mulai ketakutan kocar-kacir meninggalkan barisan. Keadaan ini mendorong Saul memutuskan melakukan upacara korban persembahan tanpa kehadiran Samuel. 

Ketika akhirnya Samuel datang, Saul tampak tidak merasa bersalah dengan perbuatannya. Sebaliknya Saul seolah menyalahkan Samuel. Padahal Samuel menepati janjinya tetap datang pada hari ketujuh.  Tentu saja ada konsekuensi dari kecerobohan Saul tersebut (1 Samuel 13-14). 

 

Baca Juga: Fakta Alkitab: Mujizat Air Jadi Anggur di Kana, Asalnya dari Air Pembasuh Kaki 

 

Tuhan menghendaki Saul lengser dari singgasana kekuasaan. Tuhan menggantikannya dengan Daud.   

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Sumber : Jawaban Channel
Halaman :
12Tampilkan Semua

Ikuti Kami