Flexing, Strategi Marketing Berkedok Penipuan. Hati-hati Ya!

Finance / 21 March 2022

Kalangan Sendiri

Flexing, Strategi Marketing Berkedok Penipuan. Hati-hati Ya!

Lori Official Writer
897

Michael LeBoeuf, seorang penulis buku bisnis, seperti dikutip lewat situs Quora menyampaikan demikian.

“Orang kaya yang pintar tidak suka pamer.  Mereka menyimpan sebagian besar uang mereka untuk diinvestasikan supaya uang tersebut bekerja bagi mereka. Banyak orang yang pura-pura kaya membeli mobol mahal, pakaian, perhiasan dan lain-lain untuk membuat kita percaya bahwa mereka kaya. Jika Anda menghabiskan uang Anda untuk membeli barang-barang mahal, Anda akan membeli barang tersebut tetapi tidak dengan uang Anda.”

Pernyataan ini benar-benar sesuai dengan fenomena kaya bohongan atau kaya abal-abal atau yang disebut dengan istilah flexing belakangan ini di Indonesia.

Seperti dituturkan praktisi bisnis Profesor Rhenald Kasali bahwa dalam Theory Consumer Behaviour, istilah conspicuous consumption merupakan perilaku dimana seseorang sengaja menunjukkan barang-barang yang dibeli kepada orang lain. Misalnya, mobil mewah, perabotan rumah mahal dan sejumlah barang-barang bermerk yang serba mahal. Orang-orang semacam ini, katanya, sengaja untuk menunjukkan bahwa dirinya hebat, kaya dan memiliki sesuatu. 

Tindakan pencitraan inilah yang diharapkan bisa menarik perhatian orang lain, sehingga ketika dia mulai menawarkan produk untuk dijual maka konsumen akan lebih mudah percaya. 

 

Baca Juga: Salahkah Jika Kita Ingin Menjadi Kaya? Ini yang Alkitab Katakan

 

Dua Macam Flexing

Menurut Profesor Rhenald, orang-orang yang melakukan flexing atau pamer kekayaan dibagi dalam dua macam. Pertama, pamer untuk tujuan menumbuhkan kepercayaan kepada publik. Dengan istilah lain, sebuah tindakan pencitraan demi mendukung bisnis atau pekerjaan profesionalnya. Contoh kasus seperti pengacara kondang Hotman Paris yang terkenal kaya dan yang suka memamerkan kekayaannya kepada publik.

Kedua, pamer kekayaan yang sengaja dilakukan orang yang sebenarnya tidak kaya tetapi mereka memiliki tujuan melalui tindakan tersebut untuk menjadi kaya. Tahukah Anda bahwa tindakan ini merupakan strategi marketing berkedok penipuan lho! 

Menariknya, tindakan ini banyak dilakoni oleh kaum millenial dan kebanyakan korbannya juga berasal dari kaum millenial sendiri. Seperti realita yang bisa kita lihat terjadi kepada founder aplikasi trading Binomo Indra Kenz dan juga founder aplikasi trading Quotex Doni Salmanan. Keduanya sengaja memamerkan kekayaan secara terang-terangan di sosial media. Kemudian setelah menaruh kepercayaan publik, mereka mulai memanfaatkan kepercayaan tersebut untuk memperkaya diri mereka melalui investasi bodong yang dijalankan.

 

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Sumber : Rhenald Kasali Youtube Channel
Halaman :
12Tampilkan Semua

Ikuti Kami