Militer Serang Katedral, Puluhan Ribu Warga Myanmar Melarikan Diri

News / 15 November 2021

Kalangan Sendiri

Militer Serang Katedral, Puluhan Ribu Warga Myanmar Melarikan Diri

Lori Official Writer
1622

Pasukan militer Myanmar dilaporkan kembali menembaki sebuah Gereja Katedral di wilayah Shan bagian Timur Laut Myanmar untuk yang kedua kalinya dalam kurun waktu lima bulan. Sepanjang waktu ini, militer terus menargetkan gereja dan gedung-gedung biara Katolik sehingga menyebabkan sebanyak 10.000 warga melarikan diri.

Sebagaimana dikutip dari Christianpost.com, pasukan militer menembaki Katedral Hati Kudus Yesus di Keuskupan Pekhon pada Selasa, 9 November 2021, beberapa hari setelah peristiwa penembakan biara Suster Zetaman.

Terkait serangan terhadap Gereja Katedral ini, diketahui tidak ada korban jiwa.  Meski begitu pertempuran antara pasukan militer dengan pasukan yang dibentuk warga masih terus berlangsung. 

“Pertempuran itu masih berlangsung, sehingga mayoritas warga yang telah melarikan diri dari rumah mereka ke daerah yang aman,” kata pekerja sosial Katolik kepada Union of Chatolic Asia News.

 

Baca Juga: Militer Serang Gereja, Kardinal Myanmar: Kami Mohon Perang Dihentikan...

 

Sejak pecahnya perang saudara di Myanmar, ratusan ribu warga Kristen mengungsi untuk menghindari pertempuran.

Keuskupan Pekhon dan Loikaw di negara bagian Kayah telah menjadi salah satu daerah yang paling terkena dampak sejak meningkatnya pertempuran. 

Bulan Oktober 2021 lalu, pasukan keamanan Burma menembakkan artileri berat ke sebuah kota di daerah mayoritas Kristen di Chin. Mereka membakar sedikitnya 100 rumah dan dua gereja.

Ini adalah serangan balasan setelah milisi Chin menembak dan membunuh seorang tentara Burma yang melakukan menjarahan dan penyerangan terhadap rumah-rumah warga.

Sepanjang bulan Juni hingga Mei, setidaknya 8 gereja dirusak di wilayah Kayah dan Shan. Bulan Mei, misalnya, empat warga sipil dilaporkan tewas dan 8 lainnya terluka ketika militer melakukan penembakan ke sebuah gereja Katolik di Kayah.

Di bulan September lalu, seorang pendeta muda bernaam Cung Biak Hum dari Thantlang Centennial Baptist Church, ditembak mati saat mencoba membantu salah satu jemaatnya yang berusaha menyelamatkan rumah mereka yang dibakar oleh militer.

 

Baca Juga: Nasib Pendeta Myanmar, Dibunuh Tentara Saat Hendak Bantu Jemaat Gereja

 

Lembaga Kristen Open Doors sendiri menyampaikan laporan bahwa Myanmar menduduki peringkat ke-18 sebagai 50 negara yang paling tidak ramah terhadap umat Kristen. Perang saudara yang terjadi belakangan ini bahkan membuat Myanmar dijuluki sebagai negara dengan pelanggaran kebebasan beragama tertinggi menurut Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS).

Yuk terus berdoa buat Myanmar, khususnya bagi warganya yang terjebak di tengah peperangan melawan pasukan militer. Terjadi perdamaian dan pemulihan total atas Myanmar di dalam nama Tuhan Yesus.

Sumber : Christianpost.com
Halaman :
1

Ikuti Kami