Nasib Pendeta Myanmar, Dibunuh Tentara Saat Hendak Bantu Jemaat Gereja

Nasib Pendeta Myanmar, Dibunuh Tentara Saat Hendak Bantu Jemaat Gereja

Lori Official Writer
1554

Seorang pendeta muda dari Gereja Baptis Centennial Thantlang tewas dibunuh ketika mencoba membantu salah satu jemaat gerejanya menyelamatkan rumah mereka yang terbakar pada Sabtu, 18 September 2021.

Berdasarkan identifikasi, pendeta malang tersebut bernama Cung Biak Hum. 

“Seorang pria yang diidentifikasi sebagai Cung Biak Hum, seorang pendeta muda Kristen di Thantlang Gereja Baptis Centennial ditembak mati oleh Junta,” demikian dituliskan oleh pemilik akun Twitter @Nyelein24049716.

Sementara menurut laporan Tom Andrews dari PBB menyatakan bahwa pembunuhan Cung ibarat neraka yang dialami oleh rakyat Myanmar setiap hari.

“Pembunuhan seorang pendeta Baptis dan pengeboman rumah-rumah di Thantlang, negara bagian Chin adalah contoh terbaru dari neraka hidup yang dilakukan setiap hari oleh pasukan junta terhadap rakyat Myanmar,” ungkapnya.

 

Baca Juga: Militer Serang Gereja, Kardinal Myanmar: Kami Mohon Perang Dihentikan...

 

Dia bahkan mendesak masyarakat Internasional untuk bertindak mengakhiri penindasan ini.

Berdasarkan laporan, Cung ditembak oleh tentara setelah dia keluar untuk membantu memadamkan api di sebuah rumah yang terkena tembakan artileri militer.

Persekutuan Gereja Baptis Dunia, sebuah kelompok Kristen dari 126 negara yang mewakili 47 juta jemaat gereja Baptis di 241 badan gereja meminta pertanggungjawaban dari para pelaku pembunuhan Pendeta Cung.

“Pada tanggal 18 September 2021, lebih dari 19 rumah dibakar oleh pasukan militer. Pendeta Baptis Rev Cung Biak Hum berusaha membantu karena salah satu rumah miliki anggota gerejanya terbakar. Sebaliknya, setiba di tempat kejadian, dia ditembak dan dibunuh oleh tentara militer, dia menjadi pendeta Baptis pertama yang meningggal karena konflik yang sedang berlangsung. Tentara militer juga mencuri ponsel, jam tangan dan memotong jarinya untuk mengambil cincin kawinnya,” demikian disampaikan dalam pernyataan Persekutuan Gereja Baptis Dunia.

Selain itu, kelompok tersebut juga meminta agar pendeta lain segera dibebaskan, Pendeta Thian Lian Sang, dan memperbaiki kembali semua rumah yang dibakar oleh militer.

Seperti diketahui, Myanmar menghadapi konflik kekuasaan sejak militer menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi. Penggulingan yang awalnya ditentang dengan demonstrasi damai ini berubah menjadi perpecahan berdarah antara warga sipil dengan militer. Pasukan militer memakai kekuatan senjata sehingga banyak diantara orang tidak bersalah menjadi korban.

 

Baca Juga: Pahlawan Muda Myanmar dengan Hati Malaikat yang Mati Tertembak, Inilah Sosok Deng Jia Xi

 

Diperkirakan sebanyak 1000 warga sipil tewas selama tujuh bulan masa konflik ini. 

Sementara di sisi lain, pejuang nasional Myanmar terus melakukan perlawanan terhadap militer dan mengeluarkan seruan besar-besaran untuk perang melawan militer.

Ketegangan di Myanmar menjadi ‘keadaan darurat’ lantaran pasukan militer Myanmar terus bergerilya ke desa-desa dan seluruh kota besar di negara tersebut. 

Sementar militer Myanmar dikenal sebagai pasukan pertahanan terbesar di Asia Tenggara dan dikenal dengan reputasinya yang tangguh dan brutal karena terlatih berperang di hutan selama bertahun-tahun.

Massivenya kekacauan yang terjadi di Myanmar dan beragam pelanggaran HAM yang dilakukan militer membuat negara ini masuk dalam daftar pengawasan dunia oleh Open Doors tahun 2021 dan dianggap sebagai negara yang paling banyak menganiaya umat Kristen.

Sumber : CBN
Halaman :
1

Ikuti Kami